If running were easy, everybody would do it. Guess what? They don’t. You do. Now suck it up.

Lari memang sebuah olah raga yang menurut saya lebih banyak dipengaruhi oleh kematangan mental. Bahkan, saya yang telah menjalani olah raga lari cukup lama, masih terus menerus berusaha untuk menundukkan mental blocking yang sering terjadi ketika berlari. Mulai mental blocking dari hal yang sangat sepele mengenai jadwal latihan sampai mental blocking saat di acara lomba. Bicara pasal mental blocking, baru kali ini saya berhasil mengalahkan beberapa kali gelombang mental blocking ketika menghadapi sebuah lomba lari. Dimulai sebelum gelaran mulai sampai pas di acara lombanya sendiri.

Kalau dirunut pas daftar lomba Halo Fit Run kemarin, sudah terlihat bahwa saya terjangkiti penyakit sok sok iye. Mendaftar di kategori 20K dengan keyakinan bahwa akan mampu menundukkan jelajah tersebut, karena sebelumnya telah beberapa kali menempuh jelajah Half Marathon, baik di dalam event lomba maupun latihan pribadi. Nyatanya, setelah daftar, agak menyesal karena KEJAUHAN. Harusnya mendaftar kategori 10K saja cukup.

Sesuai petuah para pelari, bahwa untuk berlari jelajah jauh (long run) membutuhkan persiapan yang matang, paripurna. Nah mengenai persiapan inilah yang bikin miris dan sedih. Jadi gini, 2 Minggu sebelum gelaran dimulai, saya terkena cidera engkel. Engkel kaki kiri terkilir karena hal yang konyol, jalan kaki. Bengkaklah engkel kaki kiri sampai hampir 2 minggu, dan baru bisa mengempis signifikan ketika menjelang lomba. Namun ya sudahlah, kalau gak latihan lari trus mau ikut gelaran lomba 20K, cari mati? Cari mati, hal itu sempat membuat saya ingin mundur dari lomba. Namun kata teman saya, finish what you started. Show must go on. Dan hitung punya hitung ingin menantang diri sendiri, break the limit, dan ingin membalikkan pameo bahwa yang cidera tak bisa ikutan lari. Bandel bin nekat ya? Emang!

Praktis selama cidera saya hanya latihan core. Guru lari saya pernah bilang,”Cak, kalau core lu kuat, mau lari berapapun jaraknya ya bakalan aman dan nyaman.” Ok suhu! Tapi ya gak mungkin lah saya lari 42K dengan persiapan core training doang, cari mati namanya suhu J. Latihan core yang saya lakukan adalah plank, crunch, wall sit dan squats. Masing-masing dengan porsi sebagai berikut

  1. Plank 30 detik, 5x
  2. Crunch 10x
  3. Wall sit 30 detik.
  4. Squat 15x.
cara plank

cara plank

cara crunches

cara crunches

cara wall sit

cara wall sit

cara squat

cara squat

Mengenai engkel, saya melakukan perawatan engkel dengan cara mengkompres engkel dengan air dingin atau es. Karena saya tak kuat kalau terus menerus dikompres es, maka sebagian besar direndam air dingin sesering mungkin. Seminggu pertama tak kunjung kempis. Panik dong, jelas! Akhirnya sesuai saran dari keluarga, dikompres dengan Tiger Balm Patch Relief, yang akhirnya dapat membuat kempis inflamasinya secara signifikan.

4 hari sebelum lomba, saya mencoba untuk ‘manasin’ engkel dengan berlari pace rendah, sangat rendah, di atas 8 menit per km. Selama 3 hari berturut turut saya mencoba menaikkan pace tersebut, sehingga bisa mencapai 6’30 per kilometer. Jelajah yang saya tempuhpun cuman 5K. Sehari sebelum lomba, memutuskan untuk menjadi rest day. Tak ada percobaan latihan lari, hanya latihan core saja. Di hari itu saya fokus di memperbaiki asupan cairan elektrolit dan carbo loading.

Pas hari lomba, terus terang agak nervous. Bangun terlalu awal, yaitu jam 02.30 kemudian mandi dan jam 03.00 memutuskan untuk berangkat ke lokasi. Saya takut harus mencari lokasi karena tidak terlalu hapal daerah Bumi Serpong Damai Office Park, eh malah tiba di lokasi sekitar jam 03.45. Jam 05.15 saya sudah siap di belakang garis start, eh malah ketemu Podelz dan Mbak Dita. Jadilah kita foto bareng.

Momen sebelum start Halo Fit Run 2015 20K

Momen sebelum start Halo Fit Run 2015 20K

Di rencana lomba, saya mengeset akan lari dengan pace 7’30 dan ternyata sama dengan rencana Podelz, jadilah kami sepakat akan bersama sampai persimpangan yang akan memisahkan kami kelak. Tsaaaaah.

Lomba dimulai pas 05.30, kami dengan langkah teratur selalu menjaga pace di angka 7’30. Nyaman sekali. Pagi masih buta, sinar matahari belum muncul, udara masih dingin, semua yang start dalam keadaan riang gembira, padahal 20K loh. Nikmat sekali lari dengan ritme terjaga di 7’30, sambil disertai ngobrol ngalur ngidul. Bayangkan, kami lari sambil ngobrol loh di pace 7’30, luar biasa bukan?

Lari tandem tersebut berakhir di KM 14, saya merasa perlu eksplorasi lebih jauh untuk mengetahui mengenai keadaan tubuh. Saya ingin mencoba breaking the limit. Ingin mencoba mengetahui sampai batas mana jantung saya bisa bekerja dan sampai seberapa cepat kaki dengan engkel cidera dapat dibawa lari. Karena bagi saya, moto breaking te limit adalah salah cara untuk mendobrak batasan yang ada pada diri saya, batas ketakutan, batas kemalasan, dan batasan batasan lainnya.

Praktis dari KM 14 sampai KM 16, saya lari dengan pace cukup tinggi. Pun Heart Rate Monitor saya menjerit jerit karena melampaui batas aman yang selama ini saya atur, yaitu maksimum 160 bpm, namun dalam 2 kilometer yang saya ‘paksakan’, HR menembus sampai 167 bpm. Namun, belum ada tanda tanda yang bikin jantung saya mengirimkan sinyal aneh aneh. Ya, ini bagian dari Breaking The Limit.

Di KM 16 saya memutuskan untuk berhenti. Makan pisang untuk asupan cepat dan minum segelas air. Lepas dari KM 16, saya berlari lagi memulai dengan kecepatan 7’30. Ketika pace akan naik lebih kencang lagi, menemukan seorang peserta kram kakinya, saya putuskan untuk membantu dan memberikan satu saltstick. Sebagai sesama pelari, kami ingin merayakan lomba ini dengan riang, nyaman dan aman. Bagi saya lomba adalah bagian merayakan kehidupan.

Menjelang kilometer terakhir, lari ke garis finish dengan mencoba kembali mendobrak batas tubuh, breaking the limit, berlari dengan kecepatan 6”40 yang membuat HRM melejit menunjukkan angka 171 bpm. Di lomba kali ini, saya merasa masih punya tenaga pas finish, gak jompo amat seperti Half Marathon tahun kemarin di lokasi yang sama namun diselenggarakan oleh operator dan brand lain. Oh iya, saya menghabiskan 2 GU Gel dan 1 saltstick di lomba kali ini.

Malam harinya pasca lomba, saya melihat hasil stat lomba di dashboard movescount dan strava, lalu nampak hasilnya yang cukup memuaskan bagi seorang pelari yang sedang cidera. Patutlah saya berbangga!

Movescount Pace Average Halo Fit Run 2015 20K

Movescount Pace Average Halo Fit Run 2015 20K

Movescount Detail Halo Fit Run 2015 20K

Movescount Detail Halo Fit Run 2015 20K

Strava Race Analysis Halo Fit Run 2015 20K

Strava Race Analysis Halo Fit Run 2015 20K

Strava Pace Distribution Halo Fit Run 2015 20K

Strava Pace Distribution Halo Fit Run 2015 20K

Secara umum, lomba kali ini menyenangkan. Saya menikmati sekali setiap kilometer demi kilometer yang dilalui, berusaha mendengarkan seluruh tanda tanda tubuh. Berusaha komunikasi dengan tubuh setiap ada tanda tanda yang aneh. Saya berhasil menantang diri sendiri untuk mendobrak seluruh batasan yang timbul. Tentunya mendobrak batasan tersebut dengan melakukan serangkaian latihan yang bertujuan untuk menimalkan timbulnya cidera ketika lomba terjadi. Dare to challenge, to break the limit.

medali Halo Fit Run 2015 20K cukup keras

medali Halo Fit Run 2015 20K cukup keras. wefie Uding dan Bapet.

catatan:

  1. gambar plank nyomot dari sini.
  2. gambar crunches nyomot dari sini.
  3. gambar wall sit nyomot dari sini.
  4. gambar squat nyomot dari sini.
  5. foto bertiga dita, podelz, cak uding difoto oleh Agus Hamonangan.
  6. foto Cak U dan Bapet, difoto oleh Bapet.

Jikalau saya berbagi info mengenai Xiaomi Redmi 2, nampaknya bakal terkesan basi banget. Karena memang yang mengulas secara mendetail dan oke banget dibandingkan saya, yang hanya pengguna hore ini, sudah banyak sekali. Kalau memang perlu ulasan lengkap mengenai Xiaomi Redmi 2 bisa mampir ke sini, sini dan ke sini. Dijamin puas banget!

Nah, karena saya adalah pengguna yang sebenarnya, bukan pengguna gadungan, maka saya hanya menyampaikan pengalaman memakai Xioami Redmi 2 selama beberapa pekan terakhir, dan kebetulan pula menggunakan Xiaomi Redmi 2 tersebut sebagai salah satu device utama.

Dari beberapa pekan terakhir memakai Xiaomi Redmi 2, maka ditariklah sebuah kesimpulan, setidaknya ini bisa mewakili pertanyaan sebagian besar pengguna awam, kenapa harus memakai Xiaomi Redmi 2.

Gini jawabannya:

  1. Android yang keren: Keren? Ah masa? Dari sisi apa? Hardware? Software? Kalau saya bilang sih keutamaan Xiaomi di kelasnya adalah software dan hardwarenya. Memakai ROM terkini dari Xiaomi yang bernama MIUI6 maka dijamin kenikmatan pengguna awam makin asoy. Apa sih keutamaan MIUI6, sebuah operating Xiaomi berbasis Android? Banyak!
  • Themes: Banyak mungkin yang mencibir, apa sih pentingnya theme? Bagi saya penting banget, bahkan karena theme inilah istri dan anak saya langsung jatuh cinta dengan Xiaomi ketika saya sodorin produknya, istri saya memakai Mi3 dan anak saya memakai Xiaomi Redmi 1s. Theme membikin kita gak bosen dengan tampilan yang ada, bisa mengganti dengan 5000 theme yang disediakan oleh MIUI Theme Store. Mudah banget malah, tinggal pilih, klik download dan pasang.
  • UI yang cantik: Kalau boleh ngomong, MIUI ini makin mirip dengan iOS. Hal hal detail dipikirkan, salah satu contoh adalah kalau kita mendelete sebuah aplikasi, tinggal tahan, drag and drop ke icon tempat sampah dan kemudian ada efek berkeping keping aplikasinya. Remeh namun berarti. Hal kecil detail seperti ini, memanjakan mata dan juga membuat pengalaman berinteraksinya makin asyik.
  • Memory Managemen: Memory managementnya makin asyik, terbukti dengan kinerja smartphone yang tetap dapat diandalkan meskipun memory RAM 1GB. Saya ndak pernah mengalami hal hal yang bikin bete, untuk smartphone di kelasnya yang bermemory 1GB maka Xiaomi Redmi 2 sangat dapat diandalkan.
  1. Ada radionya: Bagi saya hal ini sangat penting, karena saya adalah seorang komuter yang menggunakan beragam moda transportasi, kadang perlu sesuatu untuk informasi cepat ataupun pembunuh kesepian selama di jalan. Dan tak ada yang bisa menghantarkan informasi secara instan dan pembunuh sepi selain radio. Nah, dengan fitur radio yang ada ini, bukan radio online streaming, bikin saya makin mudah dan tentunya juga menghemat kuota karena tak perlu streaming.
  2. Kamera yang kece: Iya, kameranya kece banget, baik kamera depan maupun belakang. Kamera depan otomatis tersemat fitur beautify yang membikin kecanduan selfie. Dan kamera belakang punya fitur HDR yang sangat patut dipoedjieken. Oh iya, saya suka banget dengan fitur pendeteksi umur di Xiaomi Redmi 2 ini, yang tersemat di kamera depannya. Saya dianggap berumur 25 tahun! Padahal ya jauh dari itu. Makin suka! 😀
  3. Ukuran layar 4.7”: Hal ini adalah salah satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan Xiaomi Redmi 2. Dengan ukuran 4.7” sangat pas di tangan saya dan tidak kegedean pun tidak kekecilan. Dengan ukuran tersebut saya bisa menggunakan smartphone dengan satu tangan.
  4. Support Aplikasi HRM: Nah, sebagai pelari dan pelaku gaya hidup sehat, saya suka banget cek Heart Rate Beat saya, nah dengan Xiaomi Redmi 2 ini, kalian tinggal install aplikasi untuk cek Heart Rate, saya menggunakan Runtastic Heart Rate Pro, dan bekerja dengan sempurna. Waktu saya menggunakan Xiaomi Redmi 1s, hal ini tidak terjadi.
  5. Dual SIM: fitur ini sebenarnya terlalu killer untuk smartphone kelas Xiaomi Redmi 2, namun fitur ini makin membuat Xiaomi Redmi 2 dilawan oleh para brand smartphone lain sekelasnya. Dual SIM 4G/4G yang sempat bikin saya bengong dan cuman berkomentar, gokil. Iya 4G keduanya nyala. Dan bisa digonta ganti dengan mudah ingin memakai koneksi data yang mana.

Oh iya, saya tampilkan beberapa hasil jepretan kamera Xiaomi Redmi 2, hampir sebagian besar saya ambil dengan mode HDR. Juga saya tampilkan hasil screen shot bahwa saya dideteksi berumur 25 tahun oleh Xiaomi Redmi 2 ini. 🙂

Hal itulah yang memutuskan saya untuk menggunakan Xiaomi Redmi 2 sebagai device utama. Menemani Redmi Note yang sebelumnya telah saya gunakan beberapa bulan ini. Entah produk Xiaomi apalagi yang bakalan saya gunakan, tunggu tanggal mainnya aja. 🙂

Persinggungan kita semua dengan produk Qualcomm sebenarnya telah lama terjadi. Qualcomm adalah salah satu perusahaan yang ikut membangun teknologi di bidang selular. Saya pribadi, mengetahui bahwa Qualcomm adalah salah satu pemain kunci dan pemegang hak paten yang cukup banyak di teknologi selular 3G dan LTE yang saat ini sedang ngetren. Di Teknologi 3G, Qualcomm bersama Nokia dan LG adalah pemegang paten mayoritas, lebih dari 43 persen. Di dunia 4G atau LTE, LG dan Qualcomm adalah pemegang paten mayoritas. LG dan Qualcomm sendiri memegang hak paten mayoritas sebanyak 44% dari seluruh paten teknologi 4G. Jadi dapat dipastikan tidak ada smartphone yang menggunakan teknologi 3G sampai LTE yang tidak menggunakan paten teknologi keluaran Qualcomm.

Di bidang prosesor mobile, Qualcomm mempunyai sebuah platfom mobile systems on chip bernama Snapdragon. Platfom ini digunakan di smartphones, tablet, dan komputer bergenre smartbook. Mayoritas prosesor Snapdragon telah mendukung video beresolusi HD, dengan variasi resolusi 720p sampai 1080p tergantung dengan tipe prosesor. Dibandingkan dengan prosesor mobile lainnya, Snapdragon bagi banyak kalangan dianggap mempunyai keunggulan karena modem untuk komunikasi selularnya telah terintegrasi, jadi tidak perlu ada ekternal modem selular di dalam PCB. Bahkan sejak generasi Snapdragon S4 yang dirilis di pasaran sejak 2012, Qualcomm mengintegrasikan fitur fitur WiFi, GPS/GPLONASS dan Bluetooth basebands secara langsung. Integrasi ini, secara langsung mempunyai efek kepada kinerja prosesor yang lebih efisien dan lebih hemat dalam menggunakan daya listrik.

Snapdragon logo

Snapdragon logo

Kita, terkadang kurang memperhatikan mengenai produsen dan tetek bengek mengenai chip jantung proses di seluruh alat canggih yang digunakan, besutan perusahaan teknologi dari belahan bumi mana dan siapakah. Namun, sejak lama saya suka memperhatikan, menelisik, dan ingin tahu lebih lanjut mengenai jantung prosesor seluruh alat canggih yang saya pakai. Karena bagi saya, bagian paling penting dari sebuah alat canggih teknologi, adalah bagian yang paling tidak bisa diliat oleh kasat mata namun berefek langsung kepada kinerja, yaitu prosesor. Tak terlihat namun sangat penting. Begitu pula ketika banyak saya mulai melirik pabrikan smartphone di luar Apple.

Hampir sebagian besar smartphone berbasis operasi Android yang segmennya premium, saat ini menggunakan prosesor Snapdragon. Waktu saya ingin mencoba Xiaomi mi4 pun, saya tergoda karena pengunaan Snapdragon 801 di dalam lini produk Xiaomi yang flagship alias premium. Jelaslah tergoda, dengan Snapdragon 810 yang tergolong premium, namun harganya cukup kompetitif.

arsitektur snapdragon 801

Melihat paparan Snapdragon 801 tersebut, rasanya sukar untuk menolak agar tak berusaha menggunakannya. Terutama dukungan LTE, yang bagi sebagian masyarakat penikmat teknologi awal di Indonesia dianggap barang yang sedang tren untuk dicoba. Juga layak diperhatikan dukungan Snapdragon 801 untuk penggunaan konten video UHD, Ultra HD. Yang nampaknya jadi kode tersendiri, yang patut diperhatikan, bagi para pembuat konten video di masa yang akan datang.

Bagi para pengguna smartphone saat ini dan masa depan, ada fitur yang dianggap paling penting, adalah pemrosesan terhadap konten multimedia. Di jaman yang serba cepat ini, orang lebih nyaman ketika mengolah informasi apapun dalam bentuk visual; foto dan video. Beberapa riset menyodorkan bahwa manusia lebih cepat mengolah informasi yang bentuknya visual dibandingkan dengan teks. Otak manusia lebih efisien mengolah informasi yang visual dibandingkan informasi yang bersifat teks. Maka dari itu, sekarang sangat menjamur informasi yang dikemas dalam bentuk infographic dan video singkat. Para penyedia konten dan para brand banyak menggunakan konten yang sangat kaya di visual. Penggunaan streaming video mulai menaik. Akses ke media sosial yang berbasis foto juga semakin jamak dilakukan. Semua aktivitas tersebut tentulah mendukung penggunaan prosesor yang harus mumpuni.

Mengamati perkembangan prosesor di alat canggih smartphone dan juga perkembangan konten di masa yang akan datang, nampaknya pemilihan sebuah alat canggih yang mumpuni untuk memproduksi bermacam konten visual adalah hal yang patut jadi pemikiran tersendiri. Saat ini, hampir semua bentuk smartphone dan tablet terbilang seragam. Fitur seragam, kemampuan seragam karena prosesor dan teknologi yang ditanamkan di dalamnya hampir sejenis. Jadi kalau ditanya harus memakai smartphone produksi mana? Saya sih selalu bilang, smartphone yang ada prosesor Snapdragon-nya. 😀

Beberapa bulan ini saya sempat tertarik dengan produsen pabrikan Oppo. Utamanya produk Oppo Smartphone yang menyuguhkan fitur kamera yang dapat diputar. Tentu, OPPO juga telah menggunakan prosesor Snapdragon. Nah, kemarin sempat browsing mengenai OPPO N3. Kemampuannya sebenarnya hampir setara dengan produk smartphone pabrikan lainnya. Namun yang menjadi ketertarikan tersendiri adalah penyematan kemampuan kameranya yang bisa diputar. Mungkin terkesan gak penting bagi anda. Namun bagi saya ini adalah sebuah pembeda yang cukup dapat menempatkan OPPO sebagai sebuah alat canggih yang sangat memperhatikan penggunanya dari segi kenyamanan dan kemampuannya untuk memproduksi konten yang bersifat visual. Dengan kamera yang dapat diputar tersebut, memproduksi konten semakin mudah, kontrol gampang, tak perlu ribet bolak balik kamera. Di OPPO N3 malah rotasi kameranya sudah menggunakan motor, jadi tinggal pencet muter sendiri.

Oppo N3 dengan kamera berotasi otomatis

Oppo N3 dengan kamera berotasi otomatis

Jadi, siapa nih yang mau ngasih smartphone berprosesor Snapdragon 801 dan punya kemampuan kamera berotasi? Eh 🙂

Hugo Barra untuk kedua kalinya mengundang beberapa tech blogger, guna memberikan info terkini mengenai perkembangan Xiaomi di Indonesia. Kali ini saya mendapatkan undangan cukup mendadak, meskipun demikian saya dapat meluangkan waktu untuk menghadirinya. Kali ini Hugo Barra tidaklah sendirian, bergabung bersama yang bersangkutan Steve Vickers dan beberapa personil kunci lainnya. Juga turut hadir Bobby Silalahi, Community Manager Xiaomi yang bertugas di Indonesia.

Undangan dari Xiaomi Untuk Beberapa Tech Blogger Indonesia

Undangan dari Xiaomi Untuk Beberapa Tech Blogger Indonesia

Seperti pada pertemuan sebelumnya, Hugo Barra selalu tampil dengan keadaan yang sangat kasual, non formal, santai. Ketika kami mulai berkumpul di ruangan yang disiapkan untuk pertemuan tersebut, di depan dekat layar dipajang beberapa unit device Xiaomi, sayapun melihat penampakan mi Pad dan juga mi Band. 🙂

Hugo Barra memulai pertemuan dengan menceritakan perkembangan Xiaomi di Indonesia, terutama aktivitas online dan offline. Dari paparan Hugo, tampak bahwa Xiaomi sangat sarat dengan aktivitas online. Dan aktivitas online tersebut disambut oleh para fans Xiaomi di beberapa daerah. Sehingga menimbulkan gaung yang cukup signifikan dan memunculkan beberapa kopdar/meetup fans Xiaomi yang seringnya dipanggil mi Fans. Dengan kehadiran secara resmi yang baru seumur jagung, aktivitas yang cukup padat tersebut patut diacungi jempol.

Dari pantuan beberapa kanal sosial medianya, Facebook resmi Mi Indonesia mempunyai like sebanyak 46,673. Sedangkan untuk akun resmi xiaomi Indonesia di Twitter, mempunyai pengikut sekitar 3,905. Belum terlalu besar, namun cukup menjanjikan  jika dilihat dari aktivitasnya. Dari pantuan aktivitas di sosial medianya, terlihat bahwa Xiaomi berusaha menumbuhkan duta daerah dengan memunculkan mercu suar di beberapa wilayah. Mulai muncul akun twitter para mi fans daerah yang semuanya berusaha dirangkul oleh Bobby Silalahi, Community Manager Xiaomi Indonesia. Menurut saya strategi ini sangat jitu, dengan adanya mi fans di beberapa daerah, maka Xiaomi membangun pengikut loyal yang akhirnya menjadi duta tak resmi produk Xiaomi.

Kegiatan online yang cukup aktif, nampaknya berimbas kepada penjualannya secara langsung. Hugo menginformasikan bahwa penjualan Xiaomi Redmi 1S sangat bagus. Selama 2 bulan sejak awal peluncuran, telah terjual 85,000 unit Xiaomi 1s. Sebuah pencapaian yang melampaui target yang telah disepakati. Hugo sempat menginformasikan, bahwa target waktu yang disetel untuk mencapai angka penjualan sebanyak tersebut adalah 6 bulan.

Xiaomi secara global telah menjadi sebuah perusahaan yang patut diperhitungkan. Hugo, sempat menginformasikan bahwa Xiaomi secara resmi telah menjadi perusahaan penghasil smartphone nomor 3 terbesar di dunia. Mengambil 6% segmen pasar dunia.

Vendor Smartphone Worldwide Rank

Vendor Smartphone Worldwide Rank by strategyanalytics.com

Di kunjungan kali ini, sebenarnya, Hugo Barra ingin mengenalkan kepada kami semua yang hadir dalam pertemuan tersebut sebuah device Xiaomi Redmi Note. Unit ini, ketika dipresentasikan oleh Hugo, akan dijual secara online via kanal penjualan ecommerce Lazada. Tata cara untuk bisa membeli dan mendapatkan unit ini adalah dengan cara registrasi terlebih dahulu. Peminat akan digiring untuk mengisi sebuah isian daftar minat untuk membeli unit tersebut, di gelombang penjualan tertentu. Pada hari H penjualan, yang telah registrasi sajalah yang berhak mengakses penjualan tersebut. Setiap gelompang penjualan akan dilepas beberapa ribu unit saja. Penjualan gelombang pertama dilakukan pada tanggal 13 November 2014 kemarin dan telah terjual 10,000 unit dalam waktu 47 detik.

Redmi Note, yang masuk ke dalam kategori phablet, dibekali dengan prosesor MediaTek Octa-core, dan yang dijual di Indonesia hanyalah yang berkecepatan 1,7Ghz. Memory yang disematkan adalah sebesar 2GB dengan kapasitas penyimpanan internal sebesar 8GB. Redmi Note ini mendukung penyimpanan eksternal microSD hingga mencapai 32GB.

Masih sama dengan Redmi 1S, di Redmi Note ini terdapat 2 slot simcard. Namun hanya simcard nomor 1 saja yang mendukung koneksi data 3G, sedangkan simcard nomor 2 hanya mendukung koneksi 2G. Besar dimensi Xiaomi Redmi Note adalah 5,5 inchi, lebih besar dibandingkan dengan Xiaomi 1s yang hanya 5 inchi. Ketika saya tanyakan mengenai kemungkinan Xiaomi mengeluarkan device berukuran di bawah 5 inchi, Hugo Barra menyatakan bahwa kecil kemungkinan Xiaomi mengeluarkan device dengan ukuran di bawah 5 inchi. Hugo juga mempresentasikan beberapa device dari pabrikan lain yang dianggap kompetitor Xiaomi Redmi Note, sebagai berikut:

Perbandingan spesifikasi dan harga Redmi Note dengan kompetitornya.

Dengan spesifikasi yang seperti terlihat pada tabel dan dengan harga yang sangat kompetitif, nampaknya sukar sekali untuk menolak untuk membelinya. Apalagi, selama ini sudah cukup dibuktikan bahwa system operasi MIUI mendapatkan tempat tersendiri di hati banyak orang.

Dalam kesempatan temu blogger kali ini, ada beberapa informasi, masukan dan juga pertanyaan yang semuanya menjadi perhatian Hugo Barra. Salah satu hal yang ditanyakan adalah kemungkinan bagi Redmi Note dan 1S untuk menerima update Lolipop, karena selama ini 1s dan Redmi Note masih menjalankan OS Jelly Bean. Hugo menginformasikan, bahwa Xiaomi masih dalam pembicaraan dengan MediatTek mengenai hal tersebut. Juga dari Blogger yang lain bertanya mengenai kemungkinan Mi3 dijual di Indonesia, Hugo menginformasikan mengenai hal ini tidak akan terjadi karena mi3 dianggap telah habis momen jualannya dan digantikan dengan mi4 yang sampai saat ini masih berjuang di sertifikasi di Departeman terkait di Indonesia. Pun, mi Band juga akan diajukan sertifikasi di Departemen Komunikasi dan Informasi. Pengajuan sertifikasi di Departemen Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia masih menjadi ganjalan tersendiri bagi Xiaomi. Sebagai merek baru, mereka masih berusaha menyesuaikan dengan cara di sini.

Keseriusan Xiaomi untuk menggarap pasar Indonesia tercermin dari penyediaan layanan service centre yang telah mencapai 17 service centre di 15 kota di Indonesia. Bahkan di kondisi tertentu ada jaminan 2 hours fast repair, yang ini merupakan salah satu pemikat dan jaminan bagi pengguna dan calon pengguna Xiaomi.

Akhir kata, setelah kita menjalani sesi yang sangat informal ditemani menu Jepang, masing masing dari kami diberikan satu unit Redmi Note untuk diuji coba. Dan seperti biasa, ini adalah Redmi Note kedua saya setelah beberapa bulan yang lalu juga mendapatkan unit Redmi Note keluaran China. Kata teman sih, rejeki anak saleh. 🙂

Jadi gak sabar nunggu kumpul kumpul dengan Hugo Barra di episode berikutnya. 🙂

Hugo Barra bertemu dengan beberapa blogger teknologi Indonesia.

note: foto diatas diambil oleh Praxis, dan digunakan dengan seijin yang bersangkutan. 

Saat blogpost ini ditulis, kegiatan lari larian sedang menjadi tren. Dalam setiap bulan banyak terjadi kegiatan lomba lari dari yang skalanya kecil maupun yang skalanya besar. Banyak merek numpang tenar dari kegiatan tersebut, baik merek yang berkaitan langsung dengan gaya hidup sehat lari larian maupun yang tidak berkaitan langsung.

Saya sendiri memulai kegiatan lari larian ini sejak pertengahan 2011. Namun, kala itu saya belum melakukan kegiatan lari larian secara intensif. Tahun tersebut, saya latihan untuk mengikuti kegiatan lomba 5K dari sebuah Bank International ternama, yang memang sebelumnya telah melakukan beberapa kali lomba lari di tahun sebelumnya.

Saya memulai kegiatan dengan hanya bermodalkan semangat dan membaca beberapa referensi untuk para pelari pemula. Dan saya memulai dari kegiatan yang paling dasar, yaitu membangun kekuatan dasar pelari, menguatkan kaki. Saya memulai kegiatan 1 bulan pertama dengan jalan kaki. Minggu pertama saya melakukan jalan kaki 1 km saja selama 3x. Minggu kedua meningkat menjadi 1,5 km, dengan cara 300 meter jalan kaki, 300 meter lari lari kecil begitu berulang sampai menempuh jarak 1,5 km. Minggu ketiga meningkat lagi dengan cara 500 meter jalan kaki, 500 meter lari dengan jarak tempuh masih tetap sama 1,5 km. Minggu keempat saya naikkan jarak tempuh menjadi 2 km, dengan cara 1 km lari dan 1km jalan kaki. Semua dengan pace yang bisa dibilang seadanya, sekitar 9 menit per kilometernya. 🙂

Seiring perjalan waktu, sampai blogpost ini dibuat, saya berhasil menyelesaikan Half Marathon untuk pertama kalinya dengan catatan waktu 3 jam 20 menit. Juga, beberapa hari yang lalu saya telah membukukan catatan waktu terbaik 10K yang ditempuh dengan catatan waktu 1 jam 10 menit sekian detik. Masih terhitung lambat, bagi yang telah lama mendalami kegiatan lari larian. Namun, bagi saya yang berumur hampir 40 tahun dan pernah didiagnosa mengalami kelainan jantung, pencapaian tersebut cukuplah menggembirakan.

Catatan Waktu Half Marathon JakMar 2014

Merunut ke belakang sampai sekarang, saya mempunyai sedikit tips untuk para pemula yang ingin memulai kegiatan lari larian. Saya memang bukan ahli, namun tips saya berdasarkan dari pengalaman dan diskusi dengan para teman teman yang sangat mendalami kegiatan lari larian. Tips tersebut adalah:

  1. Pemanasan: Mulailah kegiatan lari larian anda dengan pemanasan yang benar. Saya biasanya melakukan beberapa pemanasan, dimulai dengan high knees, butt kickers, ayunan kaki ke depan, ayunan kaki ke samping dan skips. Pemanasan ini biasanya saya lakukan selama 9 menit. Dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 500 meter, kemudian memulai lari dengan kecepatan rendah.
  2. Jalan kaki: Mulailah sebulan pertama dengan jalan kaki, untuk menguatkan persendian. Jangan terlalu bersemangat memulai dengan lari. Tingkatkan kekuatan dasar anda.

    Contoh High Knees

    High Knees

  3. Pakai sepatu: iyalah yaaaa, masa pake sendal. Eh baidewi, saya pernah liat salah seorang peserta lomba di BajakJKT tahun 2013 memakai sendal kayu. Saya sampai tercengang melihatnya. Oke, balik lagi ke pasal memakai sepatu. Yang saya maksudkan dari pernyataan tersebut adalah memakai sepatu yang cocok dengan postur kaki dan gaya lari. Nah, pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah kita dapat mengetahui postur kaki kita dan gaya lari kita? Itu pertanyaan bagus, sangat bagus. Jadi gini, gerak kaki manusia mempunyai beberapa karakteristik; siklus derap kaki, gaya lari, pronasi, dan tinggi busur kaki (arch height). Saya pribadi banyak meluangkan waktu untuk memilih sepatu yang pas. Pas awal pertama lari, saya hanya memilih sepatu yang mempunyai sol tebal, karena sol tebal dianggap dapat mengurangi resiko cidera. Sejalan dengan gaya berlari saya yang semakin meningkat dan mengikuti banyak arahan, maka saya sekarang ini memilih menggunakan sepatu bersol minimal yang berkarakteristik vibram. Gaya lari sayapun yang awalnya heel strike menjadi forefoot strike, dan saya bahagia dengan perkembangan ini. Untuk lebih jelasnya mengenai analisa kaki agar dapat membeli sepatu yang sesuai bisa membaca referensi ini.
  4. Pakai HRM: Nah, ini sering menjadi barang yang dianggap tak penting bagi kebanyakan pelari pemula. Mungkin sih bagi yang tergolong bugar dan sehat, alat yang satu ini tidaklah terlalu penting. Namun bagi saya, yang sebelumnya jarang olahraga, maka memiliki HRM adalah wajib sekali. HRM adalah Heart Rate Monitor, sebuah alat untuk memonitor detak jantung, yang mengirim informasinya ke alat seperti jam ataupun smartphone. Saya sudah beberapa kali berganti ganti HRM yang disesuaikan dengan Sportwatch yang saya pakai. Sekarang saya menggunakan HRM Suunto yang merupakan paket dalam produk Suunto Ambit 2. Dulu, sebelum memakai sportwatch, saya memakai HRM bluetooth yang dikoneksikan dengan smartphone. Dari smartphone, dideteksi dengan menggunakan aplikasi tambahan seperti Endomondo, Runtastic, dan Runkeeper. Untuk referensi mengenai HRM independen tersebut, bisa cek ke Ali Express aja, cukup ketikkan keyword HRM Bluetooth.

    Contoh Heart Rate Monitor

    Contoh Heart Rate Monitor

  5. Minum yang cukup: Nah nah, yang ini nih yang paling diabaikan oleh para banyak pelari. Banyak buku dan acuan lari yang menyarankan, untuk menghindari dehidrasi atau kekurangan cairan, sebaiknya para pelari mengkonsum cairan sebanyak 150 ml per 20 menit. Kalau lari lebih cepat dari 8 menit per 1,6 km maka perlu cairan 250 ml per 20 menit. Jika lari melebihi 90 menit, sebaiknya mengkonsumi cairan yang mengandung elektrolit seperti Pocari Sweat. Kekurangan cairan sangat berbahaya bagi para pelari, akibatnya adalah; kram, kelelahan yang sangat, juga menimbulkan pusing pusing.

    Minum itu penting

    Minum itu penting

  6. Pendinginan: Oh iya, setelah kegiatan lari larian, sebaiknya lakukan kegiatan pendinginan. Hal ini berguna agar otot kita menyesuaikan dengan keadaan setelah diajak untuk kerja berat, agar tak kaget gitu. Pendinginannya apa aja sih? Kalau saya sih setelah lari, biasanya jalan kaki sekitar 3-5 menit, kemudian melakukan peregangan. Beberapa bentuk peregangan yang biasanya saya lakukan adalah; quad strecth, calf stretch, lower back stretch.

Okeh, itulah sedikit panduan singkat bagi para pelari pemula. Saya juga masih menganggap diri sendiri sebagai pemula, istilahnya kerennya nubie. Bagi saya, lari adalah sebagian dari ibadah. Lari adalah sebuah kegiatan untuk menjaga tubuh agar tetap bugar dan sehat. Tuhan telah menganugerahi manusia dengan sebaik baiknya tubuh, dan hal ini adalah amanah yang wajib dijaga setiap saat. Sekian, tetap semangat dan salam olahraga!

catatan:

beberapa gambar di dalam blogpost ini diambil dari sini, sini dan sini.

– code.inc 12 November 2014

Di dalam Bahasa Jawa ada pameo,” ono rego ono rupa”. Maksudnya adalah; ada harga, ada kualitas. Meskipun kasualitas dalam pameo ini tak selamanya benar, namun mayoritas menyajikan bukti bahwa pameo itu cukup sahih di dunia yang terbilang fana ini.

Saya pribadi adalah penikmat segala jenis musik. Dari mulai musik klasik, rock, pop, dangdut bahkan musik daerah. Bagi saya musik adalah sebagian dari nafas kehidupan. 🙂

Beberapa saat yang lalu, saya berkesempatan untuk diberikan waktu beberapa minggu untuk mencoba salah satu produk Audeze, yaitu Audeze LCD-X. Perlu saya sampaikan, saya bukanlah audiophile kelas berat, pengalaman saya hanyalah pernah mencoba beberapa headphone kelas menengah. Belum pernah mencoba headphone yang tergolong kelas atas.

Pertama kali menerima barangnya lengkap dalam boks, saya cukup kagum dan berkomentar dalam hati,”oh begini toh paket kemasan headphone serius”. Boks yang saya terima tidaklah main main, lebih mirip kemasan tool box. Namun lebih fancy.

Penampakan boks Audeze LCD-X

Penampakan boks Audeze LCD-X

Pengalaman unboxing Audeze LCD-X cukup menghebohkan. Saya belum pernah unboxing sebuah headphone seserius ini. Biasanya hanyalah box biasa yang fancy, ukuran kecil, dibungkus kulit, dll. Belum pernah menemukan sebuah headphone yang dibungkus dalam sebuah box. Di dalam box tersebut terdapat, unit headphone, 2 kabel jack ukuran besar dan kecil, plus sertifikat keaslian. Untuk kabel jacknya jangan kuatir, yang kecil bisa langsung dicolok ke smartphone.

Unit headphone, 2 kabel jack dan sertifikat keaslian.

Unit headphone, 2 kabel jack dan sertifikat keaslian.

Secara pembuatan, Audeze LCD-X ini patut diacungi jempol. Kualitas padding dan cover sangat lembut dan nyaman. Padnya ketika ditempelkan di telinga, menyajikan ruang yang lega dan sangat nyaman. Seluruh cuping telinga terbenam dalam pad. Rasanya lembut dan sangat nyaman. Ketika dipakai, rasa yang pertama muncul adalah; semua fit tak ada yang longgar, mencengkeram namum nyaman.

Seperti yang telah jadi rahasia umum di kalangan penikmat headphone, bahwa Audeze mengusung teknologi planar di dalam headphonenya, yang sampai saat ini dianggap sebagai teknologi yang dapat menyuguhkan kualitas suara yang sangat tinggi. Planar headphone yang juga dikenal dengan sebutan orthodynamic adalah headphone yang menggunakan teknologi yang mirip dengan headphone elektrostatik, dengan beberapa perbedaan mendasar. Driver othodynamic terdiri dari membran yang relatif besar tergantung di antara dua set magnet. Headphone planar karena menggunakan magnet, maka ukurannya relatif besar, tidak handy.

Untuk ukuran LCD-X ini, menurut beberapa sumber yang ada menyebutkan sekitar 600 gram. Dengan berat seperti itu dan kualitas pembuatan yang prima, rasanya headphone tersebut nempel dengan kokok dan nyaman. Meskpun terkesan bulky, namun kualitas suara yang dihasilkan patoet diacungi 2 jempol. Hasil pengujian dengan menggunakan beberapa jenis musik, menunjukkan bahwa pameo ada harga ada rupa, dan bahwa planar headphone itu patoet dipoedjikan, adalah benar adanya.

Saya memulai pengujian dengan menggunakan lagu klasik cita rasa lokal hasil gubahan Addie MS di dalam albumnya yang berjudul The Sounds of Indonesia. Manuk Dadali yang saya dengarkan terasa megah, berkualitas, alami. Semua karakter suara dari alat musiknya keluar dengan kesan alami dan sangat megah. Ruang di dalam kuping mengantarkan sebuah rasa seolah olah saya mendengarkan langsung di gedung konser. Tak terasa saya ulang lagu Manuk Dadali tersebut berkali kali saking terbuainya.

Saya lakukan pengujian dengan beberapa cara, sambil duduk, jalan, bahkan tiduran di sofa. Dengan kualitas pembuatan yang prima, headphone Audeze LCDX tersebut tak ada kesan longgar, menempel dengan kokoh dan nyaman. Bahkan saya sempat ketiduran sejenak di sofa saking nyamannya mendengarkan lagu Bengawan Solo yang mendayu dayu. Seperti di awal tulisan, pameo mengenai ada harga ada rupa seperti cocok disematkan di headphone ini. Dengan bandrol harga yang gak main main, dua puluhan juta rupiah, maka headphone ini masuk ke kategori penikmat serius atau hobbyist yang memang punya dana lebih untuk menjadikan Audeze LCDX ini koleksinya. Toh, kalaupun saya ada uang lebih, dapat dipastikan akan membeli headphone ini. Karena memang kenyamanan itu ada harganya. ☺

Oh iya, saya ingin ucapkan terimakasih kepada Headfonia store karena telah memberikan saya kesempatan untuk mencoba headphone ini. Saya gak sabar ingin mencoba headphone lainnya. ☺

Beberapa bulan yang lalu, saya dan istri memutuskan untuk merenovasi rumah secara besar besaran. Mulai pembenahan atap rumah, penambahan ruangan, meninggikan plafon ruang keluarga, pembenahan kabel listrik dan mengecat kembali seluruh rumah. Dari semua hal yang teknis tersebut, yang mengundang diskusi paling mendalam adalah mengecat rumah. Kami biasanya mengecat rumah maksimal 3 tahun sekali, namun kali ini sudah molor lebih dari 3 tahun. Dan seperti kejadian sebelumnya, menentukan cat adalah sebuah diskusi yang cukup panjang. Dimulai dengan mengumpulkan beberapa katalog cat dari beberapa merek cat. Juga dari situ harus memilih warna cat yang sekiranya sesuai dengan tema yang akan kami harapkan dalam beberapa tahun mendatang. Setelah terpilih satu kandidat, kami coba tes dengan beli satu galon, dan ternyata ketika dicoba di tembok, jauh dari bayangan kami. Kami lakukan kegagalan ini sampai 2x. 🙂

Saya sempat juga mencoba download beberapa aplikasi cat di smartphone, ada yang menyodorkan konsep penyajian warna secara langsung, namun nampaknya kurang cocok secara pengalaman bersmartphonenya di saya, terasa membingungkan. Namun, beberapa hari yang lalu, saya diminta untuk mencoba aplikasi cat dan diminta memberikan saran untuk penyempurnaan. Setelah saya coba download, dan coba saya operasikan, ternyata fungsinya cukup oke. Di aplikasi ini, kita disodori sebuah konsep untuk menvisualisasikan sebuah project mengecat.

Kita bisa membuat sebuah project untuk mengencat eksterior dan interior, bahkan beberapa kenalan membuat project untuk mengecat kembali furniture dan barang lainnya. Intinya, kita memfoto sebuah obyek, dan obyek itu dapat kita ubah warnanya dengan seluruh skema warna dari Nippon Paint. Kita bisa mengimplementasikan beberapa warna sekaligus, kita bisa mengatur kontras dan pencahayannya sekaligus. Gambar yang terpampang, bisa memberikan visualisasi yang mendekati dengan keadaan yang sebenarnya. Banyak hal yang bisa dihemat dengan aplikasi ini, salah satunya yang paling penting adalah waktu. Waktu untuk menvisualisasikan sebuah proyek menjadi lebih cepat. Waktu mengambil keputusan untuk menentukan sebuah cat yang akan dipakai menjadi sangat instan. Plus juga di aplikasi ini menampilkan semacam fungsi store locator terdekat. Jadi kalau butuh catnya tinggal cari tahu langsung dari aplikasi ini, di mana toko terdekat.

Aplikasi yang saya coba adalah di smartphone berbasis iOS. Secara fungsi aplikasi ini sangat bagus, fungsinya sangat fokus. Selanjutnya yang harus ditingkatkan adalah user experience selama menggunakan aplikasi ini. Aplikasi ini juga terdapat untuk platform Android.

Btw, untuk lebih mengerti fungsinya, bisa longok laman video mengenai aplikasi Color Creation yang saya sertakan dalam blog post kali ini.