Archives For digital

Sebelum saya membahas lebih jauh mengenai GrabHitch, izinkanlah saya menguliti sedikit mengenai kenapa lebih baik berdua daripada sendirian. Di pemahaman saya, segala hal di dunia ini mayoritas selalu dalam kondisi yang berpasangan. Baik – buruk, suka – duka, kiri – kanan, atas – bawah, bahkan kalau mau melihat ke diri sendiri, banyak organ tubuh (kalau tidak mau dikatakan mayoritas) yang diciptakan dalam kondisi berpasangan. Kalau mau dilihat lebih lanjut, organ tubuh yang terlihat tunggalpun, dibangun dari sub organ yang berpasangan. Jadi, kondisi jomblo karena terpaku dengan idiom we fall in love with people we can’t have adalah sebuah kondisi menegasikan suratan alam. Eh tapi, ini sih kata Cak Uding, entah Mas Anang.

Lupakan prolog lebay saya yang mungkin bikin anda semua muntah pelagi dan mimisan kacang. Namun untuk menghadapi kondisi hidup sekarang, yang katanya zaman makin modern, zaman makin terlipat oleh keadaan, zaman makin tak ada batasan oleh internet, maka kita harus bertindak dan berperilaku yang agak lebay sih. Agak lebay dalam arti merombak segala kebiasaan yang zaman dahulu, yang mungkin sudah tak sesuai dengan semangat kehidupan zaman sekarang.

10 Tren di Tahun 2017.

Sekitar pekan kemarin, saya sempat menghadiri sebuah acara teknologi yang di situ kemudian saya mendapatkan beberapa insight, salah satunya mengenai tren terkini di tahun 2017 yang bakalan menghinggapi segenap laku hidup umat manusia. Ahzeg.

Long story short daripada saya bercerita mengenai teknologi terbaru di meetup tersebut, saya rangkumkan saja 10 tren yang akan ada dan makin berkembang di tahun 2017, sebagai berikut:

  • Penggunaan Masif Artificial Inteligence: Di mana-mana, otak itu memang adalah sumber dari segala sumber aktivitas, bahkan aktivitas berbasis internetpun juga perlu otak cerdas. Nah, dengan perkembangan teknologi dan internet yang semakin membuat dunia serasa terlipat, maka penggunaan AI untuk mengkoordinasi semua aktivitas manusia berbasis teknologi makin menjadi sebuah kebutuhan. Mayoritas seluruh fitur kemudahan yang diciptakan dan digemari oleh manusia modern berbasis internet, sebagian besar menggunakan penerapan teknologi AI.
  • IoT Yang Makin Digemari: Saya jadi ingat, sekitar beberapa tahun yang lalu ketika beberapa teman memulai project IoT nya, saya hanya bisa melirik dengan iri, karena saya belum punya project berbasis IoT. Yha, dalam hati dan pikiran terdalam, saya melihat bahwa IoT is the new black. Bagaimana mengorkestrasi sebuah keterhubungan dan keharmonisan antar alat teknologi yang dapat membatu kehidupan manusia, dengan mengoptimalkan waktu, tenaga, pikiran yang ada. Contoh kecil, dengan penerapan teknologi IoT, kita bisa memerintahkan coffe maker di rumah untuk bikin kopi ketika kita sudah mendekati rumah.
  • Mobil Otomatis: Mobil semakin terintegrasi dengan teknologi, penggunaan AI dan IoT menjadikan mobil semakin aman baik bagi penumpang maupun bagi pengguna jalan lainnya (pejalan kaki, pengendara motor dll).
  • Bodies Out Of Sync: Makin seringnya penggunaan VR dan hal-hal otomatis lainnya, motion sickness makin meningkat.
  • Paradoks Keamanan dari Smart Device: Semakin umumnya dan semakin bergantungnya para konsumen zaman sekarang terhadap smart device, sisi keamanan agak diabaikan. Semuanya diserahkan total kepada smart device.
  • Social Silo: Orang-orang membanjiri sosial media, dan semakin umum orang hanya berkumpul dan berkoneksi dengan orang-orang yang sesuai dengan pemahaman dan keyakinan sejenis. Makin sering terjadi clash antar keyakinan di sosial media.
  • Augmented Personal Reality: Penggunaan AR mengalami perkembangan, zaman dulu AR hanya bersifat terbatas, di zaman ini AR dipakai untuk mengkustomisasi para konsumen dalam melihat hal-hal di sekitarnya menjadi lebih hidup.
  • The Privacy Divide: Di zaman internet ini, orang makin terhubung, dan privacy dianggap tak ada lagi.
  • Big Tech For All: Hal ini agak menjadi paradok, Internet telah memecah dunia semakin kecil, semakin terlipat. Banyak usaha muncul yang 10 tahun lalu belum ada. Insitusi bisnis makin kecil-kecil, bergerak cepat dan rancak. Namun dalam beberapa tahun belakangan, makin gencar akuisisi perusahan internet dan teknologi, dan akhirnya muncul para pemain besar.

Kenapa sih ngomong mengenai tren 2017 ini, ya biar asyik aja sih. Nggak, nggak. Ini semacam memberikan ‘fondasi’ bahwa kenapa sih di tahun 2017 ini di Indonesia, khususnya di kota besar semacam Jakarta, ride sharing semacam GrabHitch adalah sebuah jawaban terhadap rumput yang bergoyang. Halaaah. Merujuk ke perkembangan AI, IoT, Social Silo, Big Tech For All, maka rideshare adalah sebuah kebutuhan. Orang ingin bertransportasi makin mudah, cepat, aman. Orang ingin bertransportasi gak semata-mata memindahkan diri sendiri ke satu tempat dan ke tempat lainnya, juga ingin agar sisi waktu, uang dan tenaga dapat dioptimalisasikan dengan maksimal.

Ridesharing, salah satu solusi transportasi.

Sejak beberapat tahun belakangan, perbincangan mengenai ridesharing sedang hype banget. Bahkan beberapa bulan belakangan jadi semacam kontroversi dan perdebatan hangat di kanal sosial media. Binatang apakah ridesharing itu, sejatinya rideshare adalah sebuah tren yang mengoptimalkan slot kosong pengendara di kendaraan pribadi. Jadi yang ke kantor naik motor sendirian, setidaknya ada temannya berdua sekaligus mengurangi biaya bensin. Kalau ditarik lebih jauh, ridesharing itu banyak manfaatnya dibandingkan mudharatnya, yaitu:

  • Mengurangi kemacetan: Dari sebuah studi MIT, penerapan ridesharing dalam sebuah rencana transportasi kota, dapat mereduksi kemacetan dengan signifikan, 75%. Meskipun studi ini berbasis carpooling, namun saya percaya, dengan tipe ridesharing lainpun hasilnya tetap dapat mereduksi kemacetan dengan signfikan. Detail studinya bisa dilongok di sini
  • Mengurangi emisi gas buang: Emisi gas buang adalah sisa pembakaran bahan bakar. Nah emisi gas buang ini yang ditengarai merusak ozon, jadi kalau kita ikut menyukseskan ridesharing, berarti ikut aktif mengurangi polusi. Ahzeg.
  • Optimalisasi nilai ekonomis kendaraan: Kebayang kan kalau seumpama motor yang seharusnya dipake berdua, cuman dipake sendirian aja? Boros di ongkos. Lebih enak kan pakai motor ada temannya, ongkos transportasi ditanggung dua orang. Murah.

Masih banyak lagi hal-hal baik yang kalau dijembrengin pasti lebih dari 20 halaman. Intinya sih, transportasi berbasis ridesharing itu bikin enak semuanya; yang punya kendaraan, yang jadi teman nebeng, pemerintah, aktivis lingkungan, dan sebagainya.

GrabHitch itu ‘silaturahmi’ berbasis transportasi.

Grab sudah hadir di Indonesia kalau gak salah ingat sekitar akhir 2015. Nah, dengan perkembangan transportasi berbasis ridesharing di Indonesia yang semakin pesat, baru-baru ini Grab melengkapi layanannya dengan GrabHitch. Apa sih GrabHitch itu? GrabHitch adalah fitur terbaru dari Grab yang mempertemukan antara pemilik kendaraan dengan penumpang yang memiliki tujuan sama dan terjadwal. Apa bedanya dengan fitur Grab lain seperti Grab Car atau Grab Bike? Bedanya adalah sebagai berikut:

  • Memperluas Silaturahmi: Karena ini sifatnya nebeng, maka yang menjadi penumpang GrabHitch adalah Teman Tebengan. Maka berbeda dengan penumpang ojek seperti biasa, maka penumpang GrabHitch adalah teman, secara hubungan lebih intim, lebih dekat. Jadi, beda dengan Grab Bike, yang memang ojek seutuhnya. Selain itu, kita akan bertemu teman-teman baru. Pun, kalau fokus mengenai keamanan, kita bisa menyetel agar hanya jadi Teman Tebengan yang gendernya sejenis. Kalau seiman sih belum bisa. Halaaah.
  • Harga Terjangkau: Poin ini masih erat kaitannya dengan yang di atas, ya karena emang sifatnya teman, ya jadi harga terjangkau. Harga teman, pasti lebih baik. Boleh cek toko sebelah.
  • Mengurangi Polusi: Ya ini jelaslah, kalau kita bawa motor sendiri-sendiri, ya gas yang dibuang untuk mengikis ozon tambah banyak. Beda kalau mengendarai motor ada penumpangnya, ya setidaknya yang mengikis ozon kurang satu motor. Coba bayangkan kalau hal ini direplikasi sampai 5000 motor, banyak kan?
  • Mengurangi Kemacetan: Selaras dengan poin mengurangi polusi, hal ini kalau diaplikasikan kepada 10,000 motor, maka akan mereduksi 5,000 motor. Kurang 5,000 motor di jalanan itu bisa bikin lega jalan loh. Suer.

Menurut saya, fitur GrabHitch ini adalah fitur keren yang cocok bagi orang-orang millennial. Millennial dan Gen Y adalah konsumen yang hidup dalam dunia internet, yang punya psikologi lebih open, terbuka, gampang beradaptasi, gampang terhubung dengan teman baru. Jadi menurut saya, kalau memang selama ini kalau ke kantor lebih banyak sendirian nyetir motor, gak ada salahnya mulai daftar GrabHitch agar bisa terkoneksi dengan teman baru, kenalan baru, membuka jaringan silaturahmi baru. Kalau mau tau detail mengenai GrabHitch sih bisa mampir ke sini https://bit.ly/GrabHitchID

Jadi, jangan takut dengan jebakan we fall in love with people we can’t have. Kalau kita pakai fitur GrabHitch, jatuh cinta bisa berkali kali. Jadi siapa nih yang mau jadi Teman Tebengan aku?  Halah….

IMG_20160331_084515.jpg

Jika bicara mengenai teknologi smartphone terutama chipset, maka sangat pasti orang harus tahu mengenai Qualcomm. Kenapa saya dengan yakin ngomong harus tau? Karena Qualcomm lah produsen chipset mobile yang punya pangsa besar dan juga yang mempunyai patent beberapa teknologi mobile terkini. Paten 3G dan 4G, salah satunya milik Qualcomm. Bahkan di pasar LTE, Qualcomm di tahun 2015 menurut riset dari ABI Research, adalah penghasil chipset yang mempunyai pangsa pasar terbesar, sebanyak 65%. Luar biasa bukan? Ya iyalah. Jadi, kalau belum tahu, biar om kasih tau saja. Qualcomm bolehlah dikatakan rajanya otak smartphone, rajanya mobile tech.

Di tahun 2016 ini, Qualcomm mengenalkan chipset untuk pangsa pasar smartphone premium dengan label Snapdragon 820. Snapdragon seri 8, memang diposisikan untuk pasar premium. Teknologi terkini hasil riset Qualcomm banyak diimplementasikan di chipset premiumnya. Nah, di tahun 2015 kemarin, Qualcomm mengalami insiden dengan Snapdragon 810 nya. Setelah banyak kasus kinerja chipset dan mengakibatkan Samsung beralih ke chipset buatan sendiri, maka Qualcomm terlihat berbenah cukup masif dan keluarlah Snapdragon 820 ini. Snapdragon 820 ini, karena banyak kalangan menganggap bahwa perbaikan dari Snapdragon 810 cukup besar, sampai akhirnya Samsung kembali menggunakan chipset ini di keluaran produk premium terbarunya, Samsung Galaxy S7. Selain dipakai di sebagian produk Samsung Galaxy S7, Snapdragon 820 juga akan dipakai di produk premium besutan LG, yaitu LG G5.

Dari paparan tim Qualcomm di acara Qualcomm Snapdragon 820 Experience South East Asia Debut, tim Qualcomm banyak menginfokan bahwa Snapdragon 820 ini tidak hanya mengalami peningkatan di sisi CPU dan GPU, juga mengalami penambahan signifikan lainnya; Qualcomm menyematkan Hexagon 680DSP dan Spectra ISP, yang keduanya didisain untuk mengoptimalkan power management dan juga membuat tasking bisa dieksekusi dengan konsumsi energi yang rendah. Semuanya disinkronisasikan di sebuah scheduller bernama Symphony. Apa sih kerjanya Symphony? Kerjanya sih sebenarnya adalah memanajemeni semua proses tugas dan mengirimkan semua beban kerja ke core yang punya sistem pemrosesan paling cepat dan efisien. Intinya sih, scheduler ini jadi kayak polisi aja yang menjaga lalu lintas beban kerja, namun polisi yang canggih.

Snapdragon-820-Performance-1200x675

image from Forbes 

Nah, ketika pemrosesan tugas dan beban kerja telah efektif dan efisien, maka dibutuhkan juga koneksi ke jaringan internet yang nyaman, lancar, tak cegukan. Karena percuma juga pemrosesan tugas dan beban kerja sudah oke, tapi pas terkoneksi ke jaringan internet tersendat-sendat, ujungnya antrian tugas akan timbul juga. Nah, untuk mengatasi hal ini, Qualcomm di Snapdragon 820 mengintegrasikan Snapdragon X12 LTE yang mempunyai kemampuan koneksi up to 600 Mbps. Pun punya kemampuan untuk multi gigabit koneksi dengan standar 802.11ad WiFi. Ditanggung gak ada masalah deh. Nyaman. Demonya aja bikin decak kagum saya gak habis-habis. Intinya sih, kemampuan di Snapdragon X12 LTE ini mengoptimalkan kemampuan koneksi multi frekuensi yang sekarang banyak dipunyai oleh operator seluler.

Upgrade yang menurut saya cukup signfikan ini dikemas dalam sebuah produksi CPU bertajuk Kryo milik Qualcomm. Sebuah prosesor pertama yang custom 64 bit quad core yang diproses manufaktur secara advance 14nm FinFET LPP Process. Intinya sih, ini gak main-main lah perbaikannya dibandingkan dengan Snapdragon 810.

Di acara tersebut, ada beberapa demo yang menarik perhatian saya, salah satunya adalah demo implementasi Snapdragon 820 di Virtual Reality. Di demo tersebut, lag yang terjadi sangat rendah, kualitas pixel dan kuantitasnya patut dipujikan, motion trackingnya ciamik, Ujung-ujungnya apa? Gak ngerasain motion sickness. Selama ini, VR yang beredar di pasaran, banyak bikin motion sickness bagi penggunanya. Gak lucu kan, pengen keren-kerenan pakai VR tapi kelar pakai VR trus muntah. Yes, motion sickness yang terjadi bisa bikin muntah-muntah. Saya sih berpendapat bahwa dukungan Snapdragon 820 di teknologi VR semakin mengukuhkan tujuan Snapdragon 820 yang ingin menyajikan sebuah pengalaman terkoneksi secara mendalam dan intuitif. Pasti!

Hal lain yang menurut saya patut jadi perhatian adalah implementasi sisi security di Snapdragon 820 ini. Emang kenapa sih Cak? Wislah, pokoke ciamik. Jadi gini, di salah satu demo security-nya ada 2 hal. Pertama adalah mengenai Qualcomm Snapdragon Smart Protect dan yang kedua adalah Qualcomm Snadpragon Sense ID Fingerprint. Mari kita cek-cek yang pertama dulu. Jadi gini, di Smart Protect ini, Qualcomm mengimplementasikan sebuah fitur keamanan di level hardware. Ketika ada tindakan yang aneh-aneh di sisi smartphone, maka pengguna bisa melakukan penguncian dan smartphone tidak dapat dipakai sama sekali, bahkan proses rooting saja tidak bisa dilakukan. Ndak tembus. Warbiyasak! Yang kedua adalah Qualcomm Snapdragon Sense ID 3D Fingerprint. Kalau yang ini sih, Qualcomm mendemokan bahwa sensor yang terdapat di dalam teknologi ini dapat mendeteksi sidik jari yang bermasalah, seperti berkeringat, terkena lotion ataupun cairan lainnya.

qualcomm_snapdragon_820_smart_protect_infographic_website.jpg

 

Snapdragon Sense IC

P_20160331_103719.jpg

Beberapa demo lain cukup menarik. Di tulisan lain saya akan bagikan mengenai wawancara dengan salah satu petinggi Qualcomm. Untuk sekarang cukup ini dulu, takutnya kalau saya tulis lebih panjang, sayanya jadi pengen smartphone berprosesor Snapdragon 820. Ada yang mau menghibahkan ke saya? Ihik.

Image Courtesy of Opera Software Inc.

Image Courtesy of Opera Software Inc.

Persinggungan saya dengan opera sotfware, pertama kalinya ketika menggunakan feature phone 15 tahun yang lalu. Menggunakan browser di feature phone di kala itu sudah sangat terlihat geek. Cukuplah jadi obat ganteng masa itu, dan obat pelipur lara ketika sedang bengong nunggu sesorang.

Sejak berjalannya waktu, saya lebih banyak menggunakan browser (peramban) bawaan dari smartphone. Kalau di platform Android sih pasti yang lebih banyak dipakai adalah peramban (browser) Chrome. Kalau di iOS, maka browser standarnya adalah Safari.

Sebuah keisengan tersendiri karena ingin mengetahui pasar browser terkini, membawa pengembaraan kepada laman statcounter. Dari info yang diagregasi oleh statcounter, menggambarkan pasar browser (peramban) di ranah mobile nampaknya cukup menarik. Ada beberapa pemain baru namun tetep ada yang bertahan, seperti Opera Software. Opera software, setelah saya telisik lebih jauh, mempunyai dua produk browser di platform Android, yaitu Opera for Android dan Opera Mini. Saya pribadi sempat bingung karena smartphone saya mendeteksi kedua aplikasi tersebut kompatibel untuk diinstall. Karena bingung, ya saya install sajalah semuanya.

Mobile Browser marketshare Jan -  Mei 2015

Mobile Browser marketshare Jan – Mei 2015

Setelah ditelisik lebih lanjut, maka saya tahu perbedaanya, dan dapat disimpulkan bahwa opera mini lebih cocok untuk smartphone karena tampilan lebih optimal, sesuai dengan tampilan layar smartphone. Kompresi data di Opera Mini juga lebih maksimal, hal ini sangat cocok bagi para pengguna selular yang menggunakan paket data ekonomis pun sangat cocok bagi para pengguna selular di area remote yang terkendala dengan jaringan.

Saat ini, melakukan aktivitas pencarian dan browsing di smartphone tetaplah menjadi aktivitas yang signifikan. Meskipun di tengah gempuran aplikasi lain yang dapat mempermudah kegiatan manusia, namun aktivitas browsing tetaplah hal yang paling sering dilakukan oleh para pengguna smartphone. Tentunya, dengan berjalannya waktu, aktivitas browsing masa kini sangatlah berbeda sekali dengan gaya dan aktivitas browsing masa lalu. Saat ini, kecepatan sebuah browser jadi patokan utama, kecepatan dalam hal menampilkan informasi maupun navigasi di dalam browser yang lebih asyik sehingga pengguna dapat memutuskan langkah selanjutnya dengan lebih cepat. Nah, kalau ditelisik, Opera Mini sekarang ini mempunya tampilan yang asyik yang sesuai dengan hal hal yang saya sebutkan tersebut. Selain tentunya fitur lain yang membuat Opera Mini semakin nyaman digunakan dalam segala situasi.

Penggunaan tampilan ala speed dial di opera mini, sangat memudahkan pengguna smartphone. Kita bisa mengkustomisasi situs yang sering kita akses dan ditempatkan di halaman depan. Speed dial ala Opera ini membuat situs jelas terlihat dan menghilangkan banyak langkah ketika kita melakukannya dalam cara lama yaitu; ketik dulu nama situs dan kemudian klik go, atau cari dulu di tab favorit dan klik go.

Fitur Speed Dial Opera Mini

Fitur Speed Dial Opera Mini

Fitur lain yang menurut saya jadi andalan adalah Night Mode. Nah, untuk hal ini, nampaknya sejalan dengan banyaknya pergeseran cara orang berinternet, terutama dalam hal browsing. Nampaknya, internet telah membuat banyak orang menjadi sering surfing di malam hari. Nah, dengan fitur Night Mode, maka melakukan aktivitas surfing menjadi lebih nyaman. Seluruh tampilan di browser di optimalkan agar mata manusia semakin nyaman ketika browsing, tingkat terang cahaya disesuaikan secara otomatis oleh Opera Mini. Di dalam Night Mode sendiri ada fitur tambahan untuk mengurangi ketegangan mata. Kita dapat menyesuaikan standar warna yang muncul ketika sedang menggunakan opera, dari biru-violet menjadi merah-oranye. Disinyalir dengan menggunakan hal ini, mata tidak akan gampang lelah.

Fitur Night Mode Opera Mini

Fitur Night Mode Opera Mini

Fitur Reduce Eye Strain Opera Mini - Untuk Mengurangi Ketegangan Mata

Fitur Reduce Eye Strain Opera Mini – Untuk Mengurangi Ketegangan Mata

Seperti yang telah diinfokan di awal blogpost ini, bahwa keunggulan Opera Mini yang utama adalah kemampuan browser untuk melakukan kompresi data, sehingga data yang dikonsumsi untuk aktivitas browsing cukup rendah. Nah, pengguna, dapat memantau penghematan tersebut dalam sebuah info yang asyik. Bahkan, setiap waktu kita dapat mengetahui tingkat penghematan datanya. Selain itu kita bisa mengeset resolusi foto yang akan ditampilkan ketika browsing, karena foto yang beresolusi cukup tinggi pastilah mengkonsumsi data yang lebih besar ketika akan ditampilkan di browser.

Kompresi dan Konsumsi Data Opera Mini

Kompresi dan Konsumsi Data Opera Mini

Mengurangi Resolusi Foto Opera Mini

Mengurangi Resolusi Foto Opera Mini

Hal lain yang membuat Opera Mini cukup asyik digunakan adalah fitur Discovernya. Fitur ini, adalah semacam agregator info dan berita yang dapat disesuaikan dengan Negara yang ingin kita ‘kepoin’. Dengan menggunakan fitur ini, ndak perlu kuatir akan ketinggalan berita. Opera Mini telah mengagregasi atau menyortir berita berita terkini yang sedang hits. Hal ini menurut saya adalah sebuah langkah pintar, di tengah gempuran aplikasi berita yang masing masing diluncurkan oleh banyak media. Daripada install sendiri sendiri, ya udahlah ya, dengan memakai Opera Mini, kelar semua kekusutan untuk menginstall banyak aplikasi media online.

Fiture Discover Opera Mini

Fiture Discover Opera Mini

Tampilan Fitur Discover Opera Mini

Eh baidewei, saya juga baru sadar, bahwa Opera Mini telah terkoneksi dengan operator telekomunikasi. Kebetulan saya menggunakan Telkomsel, dan di Opera Mini ada tautan khusus yang bisa mengecek penggunaan data, sisa kuota dan profil pengguna Telkomsel. Pun ada promo yang nampaknya mempunyai sasaran para anak muda, karena promonya cukup menarik dan beberapa berhadiah. Mungkin kalau ada paket Opera Mini yang berhadiah liburan ke Norway untuk melihat Aurora Borealis pastilah saya mau beli. Eh

Perkembangan alat canggih berbentuk telepon bergerak semakin lama semakin mencengangkan. Sejak kemunculan pertama kalinya, telepon bergerak bentuknya lebih dari segenggaman tangan, tebal, mirip batu bata. Perusahaan yang pertama kali meluncurkan telepon bergerak adalah Motorola dengan nama DynaTAC 8000X Advanced Mobile System pada tahun 1983. Kemampuan baterainya hanya untuk 35 menit waktu bicara, dan perlu waktu 10 jam untuk mengisi baterainya kembali penuh.

Motorola DynaTAC

Kemudian, telepon bergerak semakin berkembang menjadi kecil dan langsing. Motorola pada tahun akhir 2004 mengeluarkan sebuah handphone (telepon genggam, telepon bergerak) yang akhirnya bisa digenggam, dengan nama Motorola Razr V3. Beratnya hanya 95 gram, dengan dimensi ukuran 98x53x13,9 mm. Iya, milimeter! Punya kemampuan untuk dipake telepon terus menerus selama 7 jam (waktu bicara) dan hanya perlu waktu mengisi baterai tak sampai 2 jam untuk kembali penuh.

Motorola RAZR V3i

Di awal 1990-an, banyak orang yang membawa telepon genggam dan PDA (Personal Digital Assistant) sekaligus. Jaman itu, PDA berbasis Windows Mobile dan Palm jadi barang yang hits di kalangan gejeter. PDA pada waktu itu, kapabilitasnya mirip dengan smartphone sekarang; membaca ebook, memainkan game, chatting via aplikasi third party, menyimpan jadwal meeting, menarik email dan membacanya. Namun, saat itu, PDA jika ingin terkoneksi ke internet harus melalui sambungan telepon genggam via bluetooth. Terlihat seru kan? Iya banget! 🙂

Nah dalam perkembangannya di beberapa tahun belakangan ini, muncul “pasar” tersendiri selain telepon pintar (smartphone), yaitu wearable computing. Apa sih wearable computing itu? Kalau ditanya seperti ini, sayapun agak bingung menjelaskannya. Karena bagi saya, smartphone-pun bisa dikatakan “wearable” computing, karena smartphone telah memenuhi kriteria sebagai komputer yang mengkomputasikan seluruh kegiatan dan aplikasinya, plus smartphone juga bersifat “bisa dipakai”.

5 tahun yang lalu, saya sempat ditunjukkan sebuah jam tangan bikinan Cina yang dapat terkoneksi dengan salah satu Smartphone Android generasi awal. Dan saat itu belum ada istilah wearable computing. Istilah wearable computing jadi ngetren sejak 2 tahun belakangan. Apalagi semenjak Nike Fuelband, Fitbit, dan Google Glass jadi pemberitaan, maka istilah wearable computing jadi ngetren. Jadi, sebenarnya apakah wearable computing itu? Sebenarnya, segala hal yang bersifat komputasi bergerak dan menempel di tubuh, bisa dikatakan wearable computing, dan terlihat geek. 😀

Satu tahunan ini, Nike Fuel Band jadi barang wajib yang layak dipakai bagi manusia yang ingin dikatakan modern dan bergaya hidup sehat. Fitbit, Polar, dan Jawbone mengikuti jejak yang sama. Google Glass, mempunyai fungsi lebih jauh, sebagai komputasi bergerak yang terkoneksi langsung dengan internet, dapat melakukan beberapa aktivitas yang berkaitan dengan internet.

google glass

Bagi saya di saat sekarang, wearable impian saya adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk kegiatan sehari hari dan mendukung gaya hidup sehat. Dimulai dari memonitor waktu dan pola tidur, waktu dan pola makan, waktu dan pola olahraga, detak jantung, dan yang paling penting mempunyai database salat di seluruh titik di dunia ini. Sampai saat ini sih alat yang mendukung kegiatan hidup sehat banyak sekali di pasaran, namun yang dikemas bersama gaya hidup religius nampaknya masih jauh dari kenyataan. 😀

Saya sempat menggunakan Nike Fuel Band, namun entahlah, nampaknya saya kurang sreg dengan Nike Fuel Band yang menurut saya fungsi yang saya perlukan hanyalah untuk mengukur dan mencatat ketika saya lari. Dan agak merepotkan bagi saya kalau sinkronisasinya harus melalui koneksi komputer. Sempat naksir Jawbone UP, lebih oke dan bisa terkoneksi ke smartphone. Pun, ada aplikasi di smartphone juga yang keren. Namun, (katanya sebagian orang) Jawbone UP gak tahan air. Repot memang, keinginan manusia seperti saya ini. 😀

Fitbit Jawbone Fuelband

Wearable Computing di benak banyak perusahaan teknologi saat ini, adalah mengarah ke alat yang menempel di tangan, akhirnya produknya berupa gelang dan jam tangan. Hanya Google yang mengeluarkan produk bertajuk wearable yang berupa kacamata bernama Google Glass. Di masa yang akan datang, bakalan lebih banyak wearable yang makin berkembang; bisa terkoneksi langsung ke smartphone, ada fitur untuk tracking dan routing arah, bisa terkoneksi ke internet, punya kemampuan untuk terkoneksi dengan alat rumah tangga, punya kemampuan untuk terkoneksi dengan alat transportasi. Kalau menurut pemirsa, bagaimanakah alat wearable computing idamanmu?

catatan:

  • Foto Motorola DynaTAC dari sini
  • Foto Motorola Razr V3 dari sini
  • Foto Google Glass dari sini
  • Foto Wearable Device dari sini

Indonesia di banyak laporan, riset, artikel, seminar dan turunannya dianggap sebagai pasar berkembang bagi produk teknologi, baik yang bersifat hardware maupun software. Apalagi sejak kemunculan paket data murah dan acang harga miring (alat canggih) yang semakin terjangkau kelas menengah sampai kelas bawah, maka pertumbuhan penggunaan internet menjadi meningkat pesat.

Sebuah hasil analisis yang digagas oleh Pew Research beberapa waktu yang lalu, menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang yang mempunyai tingkat penetrasi mobile phone dan internet bergerak dengan tren menaik. Sesuai sampling sebanyak 1000 responden, 78% orang Indonesia mempunya alat telepon bergerak dan 11% nya berkategori telepon bergerak pintar, alat canggih. Kebanyakan pengguna telepon bergerak yang dianalisis oleh Pew Research, menggunakan telepon bergerak dan smartphonenya untuk berSMS dan mengambil gambar/foto.

Gambar

Analisis ini sejalan dengan kenyataan di lapangan mengenai penetrasi beragam aplikasi internet messaging di Indonesia yang semakin gencar. Mulai dari BBM yang meletakkan ‘revolusi’ cara berkomunikasi dengan membiasakan banyak orang Indonesia untuk berkomunikasi teks berbasis Internet. Kemudian disusul masuknya WhatsApp, Line, KakaoTalk, WeChat, Viber, myPeople dan Telegram. Asia adalah pasar yang sangat legit untuk produk internet messaging. Mempunyai pengguna muda yang cukup besar dan rata rata melek dengan teknologi internet. Plus, dengan semakin beragamnya kemasan internet messaging, yang semakin berkembang tidak hanya berdasarkan texting saja, namun juga menjadi sebuah platform mendekati bentuk sebuah social networking. Sebagai contoh KakaoTalk, internet messaging produk sebuah perusahaan Korea, dengan serius menggarap pasar Indonesia. Membuka kantor di Indonesia tahun 2013 kemarin, dan sampai sekarang di Indonesia telah mempunyai pengguna sebanyak 16 juta.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam undangan yang diadakan oleh KakaoTalk, untuk menyimak presentasi salah satu fitur terbaru yang merupakan hasil adaptasi KakaoTalk untuk pasar Indonesia. Fitur yang dinamakan Speed Booster ini mampu menyampaikan pesan dalam bentuk teks maupun grafis lebih cepat dibandingkan dengan layanan messaging sejenis di Indonesia. Menurut saya, kehebatan Speed Booster ini bukan hanya dari unsur kecepatannya, namun jaminan bahwa pesan dapat disampaikan bahkan dalam kondisi jaringan yang hanya 2G/EDGE saja. Hal ini, belum terdapat di messaging app selain KakaoTalk di Indonesia, menyampaikan pesan gambar dalam kondisi 2G/EDGE bisa dipastikan gagal. Semua kemajuan ini, karena keseriusan KakaoTalk untuk melayani pasar Indonesia, yang akhirnya mengoptimalisasi aplikasi KakaoTalk dengan kondisi jaringan di Indonesia.

Sedikit membedah Speed Booster, kenapa layanan ini sampai bisa mengantarkan pesan dalam bentuk gambar dengan kecepatan yang melebihi kecepatan aplikasi messaging sejenis, kuncinya adalah di optimalisasi Image Relay Technology yang difokuskan dengan memecah gambar dalam ukuran besar ke ukuran kecil kecil untuk mencapai tingkat pengantaran yang maksimal dan optimal. Selain itu, KakaoTalk mengembangkan teknologi yang mengurangi ukuran paket data ketika aplikasi sedang terkoneksi dengan jaringan 2G/EDGE. Sehingga dapat dipastikan pesan dalam bentuk teks bahkan gambar dapat diterima dengan cepat dan sempurna.

KakaoTalk dengan Speed Booster teknologi ini, mendukung hampir semua platform umum. Mulai dari BlackBerry Java dengan OS Minimum 3.3.1, Android dengan spesifikasi minimum 4.3.1, iOS dengan versi OS minimum 4.0.1, Windows Phone dengan minimum OS 0.9.0 bahkan Asha dengan versi minimum 0.9.0. Yang menarik, saya sempat komplain kepada Mario Nicholas, Product Manager KakaoTalk Indonesia, mengapai versi BlackBerry 10 kok tidak ada di market, saya diingatkan bahwa BlackBerry 10 terbaru sudah bisa menggunakan aplikasi KakaoTalk versi Android. Duhh saya lupa.. 😀

Mengamati persaingan aplikasi messaging di Indonesia sangatlah menarik. Dan saya salut dengan langkah KakaoTalk untuk melakukan adaptasi yang krusial untuk wilayah Indonesia. Saya harap, dengan pemasaran yang lebih inovatif maka produk KakaoTalk yang telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia ini semakin diminati oleh masyarakat. Pasar untuk messaging app di Indonesia masih sangat besar, meskipun persaingannya telah sangat ketat.

Oh iya, kalau ingin tahu mengenai teknologi Speed Booster ini dalam bentuk TVC, bisa langsung longok di klip yang saya sertakan dalam blog post ini.

 

Cyruschat dingblog

Mungkin bakalan banyak yang berkomentar,”ahh pasti Cyrus Chat adalah smartphone Android kelas menengah lainnya”. Kalau saya bilang sih, Cyrus Chat besutan dari PT Mitra Komunikasi Utama adalah smartphone Android produk lokal dengan kelebihan di sisi hardware dan juga di sisi paket jualannya yang terbilang MACAN! Ya gimana gak macan, coba saja baca seluruh paket yang ditawarkan ini dengan satu tarikan nafas;

  • Smartphone Android berbasis keypad fisik QWERTY.
  • Dual SIM Card.
  • Sudah mendukung HSPA.
  • Mendukung T Flash sampai 2 TB.
  • OS yang ditanam adalah Android Jelly Bean.
  • Bonus Voucher untuk berbelanja Majalah, Buku dan Koran di aplikasi INDOBOOKS.
  • Gratis 24GB paket data Telkomsel selama 1 tahun, senilai 720 Ribu Rupiah.
  • Beberapa Game HD Gameloft.

Saya sering melihat, para pabrikan smartphone lokal yang mengusung OS Android, banyak yang hanya lebih fokus di jualan devicenya tanpa embel embel paket jualan yang menarik. Palingan yang dijual paket data bundling dengan operator sebesar maksimum 2GB. Namun belum ada yang membundling dengan aplikasi lokal maupun yang international. Apalagi yang membundling dengan konten majalah, buku, dan koran senilai ratusan ribu.

Terus terang, saya sempat icip icip sejenak Cyrus Chat ini. Saya memesan unit ini dengan system pre order di situs cyruspad yang akhirnya dikirim beberapa minggu kemudian, dikarenakan pengiriman dari pabriknya di China. Karena saya pesan pre-order, maka saya berhak pula untuk mendapatkan satu tiket nonton konser kolaborasi Melly Goeslaw, Andien, Astrid, Bondan Prakoso, Smash, dan Coboy Junior pada tanggal 11 Desember 2013. Sekali lagi, kemasan jualan yang sangat menarik!

Unit Cyrus Chat datang beberapa hari yang lalu, kemudian saya coba saya sinkronikasasikan dengan akun Google dan langsung download beberapa aplikasi. Pengalaman menggunakan keypad fisik di Cyrus, cukup nyaman. Keypadnya mengingatkan terhadap keypad dari BlackBerry Curve. Cukup empuk dan dengan keypad fisik maka pengetikan lebih bisa terjaga dan lebih cepat. Saya belum sempat coba lebih mendalam, karena devicenya terlebih dahulu dipinjam oleh kolega untuk testing beberapa aplikasi smartphone yang sedang dalam produksi.

Bagi saya, Cyrus Chat cocok banget untuk segmen perempuan dan remaja. Kenapa perempuan? Karena beberapa kali survey di sekitar saya, para perempuan lebih suka menggunakan keypad fisik. Atau mungkin yang saya survey lebih banyak pengguna BlackBerry? Entahlah. Dan juga kenapa cocok untuk segmen remaja? Ya karena menurut saya, remaja suka menggunakan aplikasi media sosial dan chatting yang lebih banyak mengetik. Pengetikan di Cyrus Chat tergolong nyaman. Dan ini bakalan banyak mengkonversi para pemakai BlackBerry ke Android. Ini sih sekedar prediksi warung kopi. Saya lihat, Cyrus Chat bisa masuk ke segmen yang tepat, segmen para pendamba keypad fisik yang ingin berpindah ke Android (dari BlackBerry) namun belum terlalu pede karena di Adroid, device berkeypad fisik bisa dihitung dengan jari.

Okelah, daripada saya berbusa busa nulis, mungkin lebih nyaman jika melihat video demo Cyrus Chat. Monggo…

Jadi, sudah berapa smartphone Android yang anda gunakan? Dan sampai saat ini, device Android yang berkeypad fisik manakah yang pernah digunakan?

Z30

Pertama kali memakai BlackBerry di tahun 2006, tak pernah terpikir bahwa teknologi BlackBerry akan berkembang sejauh ini. Dulu, dapat mengakses secara langsung, cepat, gegas layanan email di BlackBerry dan dapat berbincang dengan kolega, keluarga dan teman sepermainan melalui BlackBerry Messenger adalah sebuah kemewahan tersendiri. Apalagi, waktu itu, layanan BlackBerry mempunyai brandrol harga layanan yang cukup terbilang premium.

Waktu memang tak berjalan mundur, dan teknologi selalu berkembang dalam hitungan bulan. Prosesor makin cepat, layar makin kinclong dan lebar, kanal jaringan internetnya makin besar, aplikasi dan layanan konten di smartphone makin beragam, maka menuntut sebuah smartphone yang berteknologi paling muktahir. Dan BlackBerry Z 30 adalah flagship dari BlackBerry berbasis OS BlackBerry 10 yang paling baru muncul di pasaran.
ASeries Black BBM Video LeftHorizontal size1
Saya, pertama kali melihat secara langsung BlackBerry Z30, ketika sedang berada di Hong Kong dan mengikuti helatan BlackBerry Jam Asia di akhir September 2013. Ketika mengenggam BlackBerry Z30, saya langsung jatuh cinta terhadap crafting dari Z30 yang sangat terasa kelas premiumnya. Spesifikasinya juga sejajar dengan produk flagship para kompetitornya. Dan ini adalah BlackBerry 10, yang punya kemampuan wahid urusan messaging dan email, operating system yang fluid, aplikasi aplikasi yang mumpuni untuk kegiatan sehari hari, kamera yang patut dipujikan. Namun sayang, kantong saya belum mampu untuk membeli produk flagship sekelas BlackBerry Z30. Produk flagship dari pabrikan smartphone, selalu mempunyai harga yang sangat premium.

Kesempatan selalu menghampiri orang orang yang sabar dan banyak teman. Beberapa hari yang lalu, saya diberikan info oleh salah seorang kenalan, mengenai keberadaan sebuah kuis yang menyediakan kesempatan untuk mendapatkan BlackBerry Z30. Hari gini dapat Z30 gratis siapa yang gak mau. Saya mendapatkan info bahwa operator telco yang punya warna identik biru tersebut, XL, sedang mengadakan kuis XlaluRame di situs ini.

Iseng saya mengikuti kuisnya dan mendapatkan info bahwa hadiah utamanya adalah BlackBerry Z30, plus juga terdapat hadiah harian yang tidak kalah menarik. Hadiah mulai dari tongsis, powerbank, voucher pulsa dan flash disk. Namun sayang, karena mungkin jari saya sudah mulai tremor, skor belum bisa menembus lebih dari 150. Skor yang terbilang rendah untuk menang kuis harian. 😀

Penasaran dengan paketnya, saya coba klik laman ini dan mendapatknya bahwa paket BlackBerry Z30 sangatlah menarik. Bundling paket datanya juga termasuk bundling layanan telepon dan sms. Lebih gokil lagi kalau beli BlackBerry Z30 XL dengan paket prabayar, kuota internetnya 72GB per bulan. Macan!

Patut diakui bahwa inovasi XL patut dipujikan dan sejak memakai layanan data XL di tahun 2006, saya belum pernah mengalami kendala yang sangat major. XL selalu memenuhi ekspektasi saya, meskipun dalam keadaan layanan sedang mengalami gangguan yang paling rendah skala servicenya. Bahkan beberapa tahun ini, saya rasakan XL semakin responsif untuk mendengarkan konsumennya. Kanal untuk mendengarkan masukan dari konsumen di ranah digitalnya; Facebook, Twitter @xl123, YouTube dan beberapa akun sosial media lainnya makin membuat XL cepat merespon suara konsumen.

Jadi, apakah sampeyan siap ber LTE dengan BlackBerry Z30? Saya sih siap.

catatan: gambar diunduh dari sini dan sini.