Archives For Android

Peluncuran produk Samsung segmen flagship selalu banyak menyita perhatian media. Maklum saja, sejak beberapa tahun terakhir, Samsung menjadi salah satu pabrikan smartphone yang cukup diperhitungkan dan menduduki 3 besar di dunia. Bahkan, dalam brand value, Samsung juta berada di 3 besar, mengekor kedudukan Aplle dan Google. Brand value Samsung menurut report yang dikeluarkan Brand Finance, sebuah perusahaan dari Inggris pada 14 Maret 2016, menyatakan bahwa Samsung mempunyai brand value senilai US$ 83.2 milliar. Ya kalau dikurs flat 10,000 rupiah per dollar sih jatuhnya nilai brandnya 830,2 trilyun rupiah. Banyak ya? Iya~

Perkara produk flagship alias papan atas, selalu jadi semacam perang imaji dan teknologi. Pasti di produk flagship para pabrikan berlomba untuk menyematkan teknologi dan fitur terbaru yang belum bersifat massal. Baik dari sisi desain, sistem operasi maupun dari sisi konten tambahan. Nah, bolehlah kita cek-cek ombak, apa saja sih fitur dan teknologi yang cukup maut disematkan di dalam produk Samsung Galaxy S7 dan S7 EDGE ini.

  1. Mendukung gaya hidup aktif.

Hmmm, apa neh law leh tw? Halah, bahasanya kok jadi kayak anak jaman sekarang. Oke, jadi gini, maksudnya dari mendukung gaya hidup aktif adalah Samsung Galaxy S7 dan S7 EDGE tahan air. Samsung Galaxy S7 dan S7 EDGE didisain tahan terhadap terpaan bahkan tercelup air. Terendam gimana? Jangan kuatir, tahan kok. Beberapa blogger mengeksplorasi kemampuan Samsung Galaxy S7 dan S7 EDGE dengan memvideokannya. Salah satunya bisa cek ke konten ini.

 

  1. Kembalinya slot memory card.

Ya, di edisi Samsung Galaxy S6, Samsung menghilangkan kemampuan untuk menambahkan memory card tambahan ke dalam smartphone. Sebuah hal yang bikin banyak orang mengeluh. Nah, di edisi Samsung Galaxy S7, kemampuan untuk menampung memory card dimunculkan kembali dan ditambahkan kemampuan sampai bisa menangani memory card 200GB. Warbiyasak!

 

  1. Baterai yang warbiyasak.

Nah, perkara baterai adalah permasalahan yang dihadapi banyak para pemakai smartphone di kota-kota besar. Maklum, dengan gaya hidup yang serba mobile, semua-semua diakses merlalui smartphone, maka dibutuhkan sebuah smartphone yang punya kemampuan baterai yang sangat prima. Memang sih, banyak yang menenteng batt box sebagai asesoris tambahan, namun dengan peningkatan batt di smartphone sendiri adalah sebuah hal yang sanagat dihargai para konsumen smartphone. Ini semakin jadi pemanis yang diliat banyak pengguna smartphone. Di Samsung Galaxy S7 dan Samsung Galaxy S7 EDGE ini, data tahan battnya diklaim naik 10% dibandingkan Samsung Galaxy S6. Meskipun cuman naik 10% namun imbasnya ke performa cukup terasa, karena secara operating system sendiripun sangat mengalami pembenahan yang berarti, plus penggunaan fitur lain yang hanya mengambil konsumsi baterai yang rendah, ujungnya ya tetap membikin Samsung Galaxy S7 dan Samsung Galaxy S7 irit. Mari kita longok deh kemampuan baterai Samsung S7 EDGE yang diukur oleh GSM Arena.

gsmarena_001

GSM Arena Battery TestΒ  Β – Β  from GSM Arena.

Oh iya, sekedar info, Samsung Galaxy S7 dan Samsung Galaxy S7 EDGE memiliki dua varian, yang beda di unit prosesornya; ada yang disematkan dengan Snapdragon 820 dan ada yang disematkan dengan Exynos E8890.

 

  1. TouchWiz yang mejik.

TouchWiz adalah teknologi sentuh UI/UX yang dikembangkan oleh Samsung. Nah, di edisi Samsung Galaxy S7 dan Samsung Galaxy S7 EDGE, banyak ulasan yang mengemukakan hal yang sama; TouchWiz yang sekarang lebih berestetika. Salah satu hal yang diulas adalah pergantian warna di area notifikasi yang berganti warna ke putih dengan latar belakang yang sedikit menonjol. Lebih terlihat bersih dan nyaman di mata dibandingkan dengan warna sebelumnya yang biru muda. Pun, masih ada beberapa pengembangan yang cukup besar di sisi TouchWiz ini.

Jadi, apakah saya ingin memakai Samsung Galaxy S7 atau Samsung Galaxy S7 EDGE tersebut? Jawabannya sih tergantung, tergantung di mana saya bisa mendapatkan Samsung Galaxy S7 dengan asyik. Nah, kayaknya sih salah satu cara untuk mendapatkan Samsung Galaxy S7 dan S7 EDGE dengan asyik ya ikuti aja salah satu lomba Samsung Galaxy S7 blog competition. Silahkan dipublish secepatnya ya gaes, soalnya sebentar lagi bakalan berakhir. Tapi saya sih yakin, meskipun tinggal beberapa hari lagi, masih ada kesempatan untuk bikin blog bagus mengenai Samsung Galaxy S7. Untuk lebih jelasnya cek di tautan berikut http://goo.gl/z5xMdV

Saya sih, kayaknya ikutan juga.. Ihik πŸ˜€

Image Courtesy of Opera Software Inc.

Image Courtesy of Opera Software Inc.

Persinggungan saya dengan opera sotfware, pertama kalinya ketika menggunakan feature phone 15 tahun yang lalu. Menggunakan browser di feature phone di kala itu sudah sangat terlihat geek. Cukuplah jadi obat ganteng masa itu, dan obat pelipur lara ketika sedang bengong nunggu sesorang.

Sejak berjalannya waktu, saya lebih banyak menggunakan browser (peramban) bawaan dari smartphone. Kalau di platform Android sih pasti yang lebih banyak dipakai adalah peramban (browser) Chrome. Kalau di iOS, maka browser standarnya adalah Safari.

Sebuah keisengan tersendiri karena ingin mengetahui pasar browser terkini, membawa pengembaraan kepada laman statcounter. Dari info yang diagregasi oleh statcounter, menggambarkan pasar browser (peramban) di ranah mobile nampaknya cukup menarik. Ada beberapa pemain baru namun tetep ada yang bertahan, seperti Opera Software. Opera software, setelah saya telisik lebih jauh, mempunyai dua produk browser di platform Android, yaitu Opera for Android dan Opera Mini. Saya pribadi sempat bingung karena smartphone saya mendeteksi kedua aplikasi tersebut kompatibel untuk diinstall. Karena bingung, ya saya install sajalah semuanya.

Mobile Browser marketshare Jan -  Mei 2015

Mobile Browser marketshare Jan – Mei 2015

Setelah ditelisik lebih lanjut, maka saya tahu perbedaanya, dan dapat disimpulkan bahwa opera mini lebih cocok untuk smartphone karena tampilan lebih optimal, sesuai dengan tampilan layar smartphone. Kompresi data di Opera Mini juga lebih maksimal, hal ini sangat cocok bagi para pengguna selular yang menggunakan paket data ekonomis pun sangat cocok bagi para pengguna selular di area remote yang terkendala dengan jaringan.

Saat ini, melakukan aktivitas pencarian dan browsing di smartphone tetaplah menjadi aktivitas yang signifikan. Meskipun di tengah gempuran aplikasi lain yang dapat mempermudah kegiatan manusia, namun aktivitas browsing tetaplah hal yang paling sering dilakukan oleh para pengguna smartphone. Tentunya, dengan berjalannya waktu, aktivitas browsing masa kini sangatlah berbeda sekali dengan gaya dan aktivitas browsing masa lalu. Saat ini, kecepatan sebuah browser jadi patokan utama, kecepatan dalam hal menampilkan informasi maupun navigasi di dalam browser yang lebih asyik sehingga pengguna dapat memutuskan langkah selanjutnya dengan lebih cepat. Nah, kalau ditelisik, Opera Mini sekarang ini mempunya tampilan yang asyik yang sesuai dengan hal hal yang saya sebutkan tersebut. Selain tentunya fitur lain yang membuat Opera Mini semakin nyaman digunakan dalam segala situasi.

Penggunaan tampilan ala speed dial di opera mini, sangat memudahkan pengguna smartphone. Kita bisa mengkustomisasi situs yang sering kita akses dan ditempatkan di halaman depan. Speed dial ala Opera ini membuat situs jelas terlihat dan menghilangkan banyak langkah ketika kita melakukannya dalam cara lama yaitu; ketik dulu nama situs dan kemudian klik go, atau cari dulu di tab favorit dan klik go.

Fitur Speed Dial Opera Mini

Fitur Speed Dial Opera Mini

Fitur lain yang menurut saya jadi andalan adalah Night Mode. Nah, untuk hal ini, nampaknya sejalan dengan banyaknya pergeseran cara orang berinternet, terutama dalam hal browsing. Nampaknya, internet telah membuat banyak orang menjadi sering surfing di malam hari. Nah, dengan fitur Night Mode, maka melakukan aktivitas surfing menjadi lebih nyaman. Seluruh tampilan di browser di optimalkan agar mata manusia semakin nyaman ketika browsing, tingkat terang cahaya disesuaikan secara otomatis oleh Opera Mini. Di dalam Night Mode sendiri ada fitur tambahan untuk mengurangi ketegangan mata. Kita dapat menyesuaikan standar warna yang muncul ketika sedang menggunakan opera, dari biru-violet menjadi merah-oranye. Disinyalir dengan menggunakan hal ini, mata tidak akan gampang lelah.

Fitur Night Mode Opera Mini

Fitur Night Mode Opera Mini

Fitur Reduce Eye Strain Opera Mini - Untuk Mengurangi Ketegangan Mata

Fitur Reduce Eye Strain Opera Mini – Untuk Mengurangi Ketegangan Mata

Seperti yang telah diinfokan di awal blogpost ini, bahwa keunggulan Opera Mini yang utama adalah kemampuan browser untuk melakukan kompresi data, sehingga data yang dikonsumsi untuk aktivitas browsing cukup rendah. Nah, pengguna, dapat memantau penghematan tersebut dalam sebuah info yang asyik. Bahkan, setiap waktu kita dapat mengetahui tingkat penghematan datanya. Selain itu kita bisa mengeset resolusi foto yang akan ditampilkan ketika browsing, karena foto yang beresolusi cukup tinggi pastilah mengkonsumsi data yang lebih besar ketika akan ditampilkan di browser.

Kompresi dan Konsumsi Data Opera Mini

Kompresi dan Konsumsi Data Opera Mini

Mengurangi Resolusi Foto Opera Mini

Mengurangi Resolusi Foto Opera Mini

Hal lain yang membuat Opera Mini cukup asyik digunakan adalah fitur Discovernya. Fitur ini, adalah semacam agregator info dan berita yang dapat disesuaikan dengan Negara yang ingin kita β€˜kepoin’. Dengan menggunakan fitur ini, ndak perlu kuatir akan ketinggalan berita. Opera Mini telah mengagregasi atau menyortir berita berita terkini yang sedang hits. Hal ini menurut saya adalah sebuah langkah pintar, di tengah gempuran aplikasi berita yang masing masing diluncurkan oleh banyak media. Daripada install sendiri sendiri, ya udahlah ya, dengan memakai Opera Mini, kelar semua kekusutan untuk menginstall banyak aplikasi media online.

Fiture Discover Opera Mini

Fiture Discover Opera Mini

Tampilan Fitur Discover Opera Mini

Eh baidewei, saya juga baru sadar, bahwa Opera Mini telah terkoneksi dengan operator telekomunikasi. Kebetulan saya menggunakan Telkomsel, dan di Opera Mini ada tautan khusus yang bisa mengecek penggunaan data, sisa kuota dan profil pengguna Telkomsel. Pun ada promo yang nampaknya mempunyai sasaran para anak muda, karena promonya cukup menarik dan beberapa berhadiah. Mungkin kalau ada paket Opera Mini yang berhadiah liburan ke Norway untuk melihat Aurora Borealis pastilah saya mau beli. Eh

Jikalau saya berbagi info mengenai Xiaomi Redmi 2, nampaknya bakal terkesan basi banget. Karena memang yang mengulas secara mendetail dan oke banget dibandingkan saya, yang hanya pengguna hore ini, sudah banyak sekali. Kalau memang perlu ulasan lengkap mengenai Xiaomi Redmi 2 bisa mampir ke sini, sini dan ke sini. Dijamin puas banget!

Nah, karena saya adalah pengguna yang sebenarnya, bukan pengguna gadungan, maka saya hanya menyampaikan pengalaman memakai Xioami Redmi 2 selama beberapa pekan terakhir, dan kebetulan pula menggunakan Xiaomi Redmi 2 tersebut sebagai salah satu device utama.

Dari beberapa pekan terakhir memakai Xiaomi Redmi 2, maka ditariklah sebuah kesimpulan, setidaknya ini bisa mewakili pertanyaan sebagian besar pengguna awam, kenapa harus memakai Xiaomi Redmi 2.

Gini jawabannya:

  1. Android yang keren: Keren? Ah masa? Dari sisi apa? Hardware? Software? Kalau saya bilang sih keutamaan Xiaomi di kelasnya adalah software dan hardwarenya. Memakai ROM terkini dari Xiaomi yang bernama MIUI6 maka dijamin kenikmatan pengguna awam makin asoy. Apa sih keutamaan MIUI6, sebuah operating Xiaomi berbasis Android? Banyak!
  • Themes: Banyak mungkin yang mencibir, apa sih pentingnya theme? Bagi saya penting banget, bahkan karena theme inilah istri dan anak saya langsung jatuh cinta dengan Xiaomi ketika saya sodorin produknya, istri saya memakai Mi3 dan anak saya memakai Xiaomi Redmi 1s. Theme membikin kita gak bosen dengan tampilan yang ada, bisa mengganti dengan 5000 theme yang disediakan oleh MIUI Theme Store. Mudah banget malah, tinggal pilih, klik download dan pasang.
  • UI yang cantik: Kalau boleh ngomong, MIUI ini makin mirip dengan iOS. Hal hal detail dipikirkan, salah satu contoh adalah kalau kita mendelete sebuah aplikasi, tinggal tahan, drag and drop ke icon tempat sampah dan kemudian ada efek berkeping keping aplikasinya. Remeh namun berarti. Hal kecil detail seperti ini, memanjakan mata dan juga membuat pengalaman berinteraksinya makin asyik.
  • Memory Managemen: Memory managementnya makin asyik, terbukti dengan kinerja smartphone yang tetap dapat diandalkan meskipun memory RAM 1GB. Saya ndak pernah mengalami hal hal yang bikin bete, untuk smartphone di kelasnya yang bermemory 1GB maka Xiaomi Redmi 2 sangat dapat diandalkan.
  1. Ada radionya: Bagi saya hal ini sangat penting, karena saya adalah seorang komuter yang menggunakan beragam moda transportasi, kadang perlu sesuatu untuk informasi cepat ataupun pembunuh kesepian selama di jalan. Dan tak ada yang bisa menghantarkan informasi secara instan dan pembunuh sepi selain radio. Nah, dengan fitur radio yang ada ini, bukan radio online streaming, bikin saya makin mudah dan tentunya juga menghemat kuota karena tak perlu streaming.
  2. Kamera yang kece: Iya, kameranya kece banget, baik kamera depan maupun belakang. Kamera depan otomatis tersemat fitur beautify yang membikin kecanduan selfie. Dan kamera belakang punya fitur HDR yang sangat patut dipoedjieken. Oh iya, saya suka banget dengan fitur pendeteksi umur di Xiaomi Redmi 2 ini, yang tersemat di kamera depannya. Saya dianggap berumur 25 tahun! Padahal ya jauh dari itu. Makin suka! πŸ˜€
  3. Ukuran layar 4.7”: Hal ini adalah salah satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan Xiaomi Redmi 2. Dengan ukuran 4.7” sangat pas di tangan saya dan tidak kegedean pun tidak kekecilan. Dengan ukuran tersebut saya bisa menggunakan smartphone dengan satu tangan.
  4. Support Aplikasi HRM: Nah, sebagai pelari dan pelaku gaya hidup sehat, saya suka banget cek Heart Rate Beat saya, nah dengan Xiaomi Redmi 2 ini, kalian tinggal install aplikasi untuk cek Heart Rate, saya menggunakan Runtastic Heart Rate Pro, dan bekerja dengan sempurna. Waktu saya menggunakan Xiaomi Redmi 1s, hal ini tidak terjadi.
  5. Dual SIM: fitur ini sebenarnya terlalu killer untuk smartphone kelas Xiaomi Redmi 2, namun fitur ini makin membuat Xiaomi Redmi 2 dilawan oleh para brand smartphone lain sekelasnya. Dual SIM 4G/4G yang sempat bikin saya bengong dan cuman berkomentar, gokil. Iya 4G keduanya nyala. Dan bisa digonta ganti dengan mudah ingin memakai koneksi data yang mana.

Oh iya, saya tampilkan beberapa hasil jepretan kamera Xiaomi Redmi 2, hampir sebagian besar saya ambil dengan mode HDR. Juga saya tampilkan hasil screen shot bahwa saya dideteksi berumur 25 tahun oleh Xiaomi Redmi 2 ini. πŸ™‚

Hal itulah yang memutuskan saya untuk menggunakan Xiaomi Redmi 2 sebagai device utama. Menemani Redmi Note yang sebelumnya telah saya gunakan beberapa bulan ini. Entah produk Xiaomi apalagi yang bakalan saya gunakan, tunggu tanggal mainnya aja. πŸ™‚

Dalam kurun waktu setahun belakangan, Samsung terlihat sangat berbenah di pengembangan produknya, hal ini terlihat ketika beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk mencoba tablet keluaran terbaru kelas premium, Samsung Galaxy Tab S. Selama ini di benak saya, terpatri bahwa produk Samsung tidaklah terlalu spesial, apalagi di kelas tablet. Namun, persepsi tersebut berubah drastis ketika diberikan kesempatan untuk mencoba secara langsung Samsung Galaxy Tablet S. Ada 2 hal yang membuat saya kagum dengan produk Samsung Galaxy Tab S tersebut. Secara produk dan secara kemasan marketing (paket konten dalam penjualan). Secara hardware, yang jadi andalan tentunya penggunaan layar dengan teknologi Super AMOLED, yang mempunyai resolusi 1600×2560. Mata ditanggung jadi nyaman banget ketika melihat video dan foto. Apalagi kalau video yang dilihat sekualitas HD, makin dimanjakan sekali. Kepekatan, ketajaman layar, dan kualitas gambar menjadi detail tak terkira! Kecerahan warna yang ditampilkan dari penggunaan Super AMOLED ini, menjadikan saya terlena banget untuk melihat beberapa video klip yang ditampilkan dalam uji coba produk tersebut. Dari pembicaraan dengan teman yang juga diundang dalam acara ini, Samsung Galaxy Tab S adalah tablet pertama yang mengimplementasikan layar Super AMOLED.

Tampilan Layar Super AMOLED Samsung Galaxy Tab S

Tampilan Layar Super AMOLED Samsung Galaxy Tab S

Spesifikasi hardware lain yang dapat diandalkan adalah dukungan chipset Exynos 5420 dengan prosesor Octacore dan didukung grafis GPU Mali-T682. Dengan dukungan prosesor oktacore, semua aktivitas multimedia maupun gaming dijamin lancar dan nyaman. Plus dukungan RAM 3GB yang ditanamkan pula Sistem Operasi KitKat 4.4.2. Tablet ini didukung dengan media penyimpanan internal sebesar 16GB dan mendukung penyimpanan eksternal (SD Card) sampai 64GB. Hal plus lainnya yang sangat penting adalah kapasitas baterai sebesar 4,900mAH. Kami sempat memainkan Game Asphalt 8 yang terlihat sangat keren grafisnya dan lancar tanpa kendala ketika memainkannya. Banyak orang membeli tablet atau smartphone, selain menanyakan mengenai kemampuan hardware, biasanya juga menanyakan kemampuan kamera yang ditanamkan. Nah, jangan kuatir deh mengenai hal itu. Di Galaxy Tab S ini, disematkan 2 kamera, untuk kamera belakang mempunyai kemampuan 8MP dengan dilengkapi fitur LED flash dan auto fokus. Untuk kamera depan yang bisa digunakan selfie, kemampuannya 2MP.

Selain itu, ada beberapa fitur yang berkaitan erat dengan kemampuan hardware, yang layak jadi pertimbangan utama yaitu; Adaptive Display, SideSync, Multi User Mode, Fingerprint Scanner, dan Kids Mode. Adaptive Display di Samsung Galaxy Tab S adalah sebuah fitur teknologi di layar. Adaptive Display memastikan bahwa tampilan visual di layar akan disesuaikan dengan keadaan sekitar. Kalau di tempat yang pencahayaannya rendah, maka layar akan otomatis menyesuaikan. Penyesuaiannya bukan hanya di tingkat cerahnya layar, namun juga menyesuaikan dengan tingkat saturasi, ketajaman warna dan temperatur warna yang sesuai dengan kondisi tempat kita berada. Terlihat pada gambar bagaimana Ario Pratomo , salah seorang tech blogger mencoba kemampuan fitur Adaptive Display.

Ario Pratomo Sedang Mencoba Fitur Adaptive Display.

Ario Pratomo Sedang Mencoba Fitur Adaptive Display.

SideSync 3,0 di Samsung Galaxy Tab S, adalah sebuah fitur yang menjamin tablet ini untuk dapat berkolaborasi dengan Smartphone keluaran Samsung. Dalam uji coba kemarin, diperagakan kolaborasi antara Samsung Galaxy Tab S dengan smartphone Samsung Galaxy S5. Para pengguna yang sedang bekerja atau sekedar menikmati hiburan via Samsung Galaxy Tab S, tidak perlu bersusah payah beranjak untuk mengambil Smartphone Samsung Galaxy S5 ataupun Samsung Galaxy Note 3, ketika ada panggilan telepon. Dengan mengaktifkan fitur SideSync ini maka panggilan dapat diterima langsung dari Samsung Galaxy Tab S. Terkesan sepele, tapi ini penting, karena tangan manusia hanya ada 2, dan ketika sedang berinteraksi dengan tablet maka perlu kedua tangan untuk aktif memegangnya. Dengan fitur ini, maka mengurangi beberapa tahapan langkah dalam merespon panggilan telepon ke smartphone, yang dapat digunakan untuk kepentingan yang lain. Terlihat di gambar, Hadi Gunawan, salah seorang tech blogger mencoba fitur SideSync 3,0 di Samsung Galaxy Tab S berukuran 10,5” dengan Samsung Galaxy S5.

Hadi Gunawan mencoba fitur SideSync Samsung Galaxy Tab S dengan Samsung Galaxy S5

Hadi Gunawan mencoba fitur SideSync Samsung Galaxy Tab S dengan Samsung Galaxy S5

Selain dua fitur tersebut, ada fitur lain yang patut jadi catatan, yaitu: Multi user mode, Fingerprint Scanner dan Kids Mode. Ketiga fitur tersebut lebih mengarah kepada perhatian Samsung terhadap keamanan akses. Dengan multi user mode, seseorang pengguna dapat membuat profil personalnya hingga 8 user. Fingerprint scanner dan Kids Mode membuat keamanan akses di dalam Samsung Galaxy Tab S makin terjamin. Hal lain di sisi hardware yang juga bisa jadi perhatian adalah tentang bentuk dan berat dari tablet ini. Bentuknya sendiri sangatlah tipis, Samsung Tablet Galaxy Tab S ini mempunyai dua ukuran layar, 8,4” dan 10,5”. Keduanya mempunyai bentuk tablet yang tipis, setipis 5 buah kartu ATM atau Kartu Kredit. Tablet ini sangatlah terasa ringan ketika digenggam di tangan, beratnya kurang lebih 287 gram dengan ketebalan body 6.6 mm. Saya pribadi lebih menikmati ketika menggunakan tablet Samsung Galaxy Tab S yang berukuran 8,4”. Sangat cocok dan nyaman ketika dioperasikan.

Ukuran Samsung Galaxy Tab S yang tipis dan ringan. Setebal tumpukan 5 buah kartu ATM.

Ukuran Samsung Galaxy Tab S yang tipis dan ringan. Setebal tumpukan 5 buah kartu ATM.

Samsung Galaxy Tab S 10.5" dan Samsung Galaxy Tab S 8.4".

Samsung Galaxy Tab S 10.5″ dan Samsung Galaxy Tab S 8.4″.

Paket konten yang terkemas dalam paket penjualan Samsung Galaxy Tab S ini, patut diacungi jempol. Saya pribadi, kagum dengan paket kontennya, yang sangat susah ditolak oleh konsep matematika para penikmat gadget. Perlu diketahui, Samsung sangat berbenah bukan hanya di sisi hardware, juga di sisi ekosistem konten. Saya melihat di Samsung Galaxy Tab S disematkan aplikasi S Lime (Samsung Library Time) yang dari penglihatan saya, nampaknya disiapkan sebagai jangkar konten di seluruh produk teknologi berbasis tablet. Untuk saat ini, di dalam S Lime terdapat konten ePaper dan eMagazines. Di paket penjualan Samsung Galaxy Tab S ini, terdapat gratis akses Kompas ePaper selama 3 Bulan dan gratis akses eMagazines sebanyak 20 majalah selama 12 bulan. Total value dalam rupiah sebesar Rp 2.650.000. Luar biasa bukan? Selain paket lokal konten, terdapat pula tambahan paket akses konten global senilai kurang lebih $1,180.27. Kalau kita kurskan paket tersebut dengan kurs 10,000 sih sudah senilai 11 juta rupiah lebih. Konten apa sajakah yang senilai itu? Konten Marvel! Pembeli Samsung Galaxy Tab S, akan mendapatkan hak akses terhadap 15,000 lebih komek Marvel dan berlangganan gratis 3 bulan melalui aplikasi Marvel Unlimited. Sangat gurih! Saya pribadi nampaknya berancang ancang untuk dapat memiliki Samsung Galaxy Tab S ini yang berukuran 8”. Semoga ada yang berniat baik untuk memberikannya ke saya, ya syukur syukur gratis atau setengah harga. Ngarep sekali ya… πŸ˜€

Perkembangan alat canggih berbentuk telepon bergerak semakin lama semakin mencengangkan. Sejak kemunculan pertama kalinya, telepon bergerak bentuknya lebih dari segenggaman tangan, tebal, mirip batu bata. Perusahaan yang pertama kali meluncurkan telepon bergerak adalah Motorola dengan nama DynaTAC 8000X Advanced Mobile System pada tahun 1983. Kemampuan baterainya hanya untuk 35 menit waktu bicara, dan perlu waktu 10 jam untuk mengisi baterainya kembali penuh.

Motorola DynaTAC

Kemudian, telepon bergerak semakin berkembang menjadi kecil dan langsing. Motorola pada tahun akhir 2004 mengeluarkan sebuah handphone (telepon genggam, telepon bergerak) yang akhirnya bisa digenggam, dengan nama Motorola Razr V3. Beratnya hanya 95 gram, dengan dimensi ukuran 98x53x13,9 mm. Iya, milimeter! Punya kemampuan untuk dipake telepon terus menerus selama 7 jam (waktu bicara) dan hanya perlu waktu mengisi baterai tak sampai 2 jam untuk kembali penuh.

Motorola RAZR V3i

Di awal 1990-an, banyak orang yang membawa telepon genggam dan PDA (Personal Digital Assistant) sekaligus. Jaman itu, PDA berbasis Windows Mobile dan Palm jadi barang yang hits di kalangan gejeter. PDA pada waktu itu, kapabilitasnya mirip dengan smartphone sekarang; membaca ebook, memainkan game, chatting via aplikasi third party, menyimpan jadwal meeting, menarik email dan membacanya. Namun, saat itu, PDA jika ingin terkoneksi ke internet harus melalui sambungan telepon genggam via bluetooth. Terlihat seru kan? Iya banget! πŸ™‚

Nah dalam perkembangannya di beberapa tahun belakangan ini, muncul “pasar” tersendiri selain telepon pintar (smartphone), yaitu wearable computing. Apa sih wearable computing itu? Kalau ditanya seperti ini, sayapun agak bingung menjelaskannya. Karena bagi saya, smartphone-pun bisa dikatakan “wearable” computing, karena smartphone telah memenuhi kriteria sebagai komputer yang mengkomputasikan seluruh kegiatan dan aplikasinya, plus smartphone juga bersifat “bisa dipakai”.

5 tahun yang lalu, saya sempat ditunjukkan sebuah jam tangan bikinan Cina yang dapat terkoneksi dengan salah satu Smartphone Android generasi awal. Dan saat itu belum ada istilah wearable computing. Istilah wearable computing jadi ngetren sejak 2 tahun belakangan. Apalagi semenjak Nike Fuelband, Fitbit, dan Google Glass jadi pemberitaan, maka istilah wearable computing jadi ngetren. Jadi, sebenarnya apakah wearable computing itu? Sebenarnya, segala hal yang bersifat komputasi bergerak dan menempel di tubuh, bisa dikatakan wearable computing, dan terlihat geek. πŸ˜€

Satu tahunan ini, Nike Fuel Band jadi barang wajib yang layak dipakai bagi manusia yang ingin dikatakan modern dan bergaya hidup sehat. Fitbit, Polar, dan Jawbone mengikuti jejak yang sama. Google Glass, mempunyai fungsi lebih jauh, sebagai komputasi bergerak yang terkoneksi langsung dengan internet, dapat melakukan beberapa aktivitas yang berkaitan dengan internet.

google glass

Bagi saya di saat sekarang, wearable impian saya adalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk kegiatan sehari hari dan mendukung gaya hidup sehat. Dimulai dari memonitor waktu dan pola tidur, waktu dan pola makan, waktu dan pola olahraga, detak jantung, dan yang paling penting mempunyai database salat di seluruh titik di dunia ini. Sampai saat ini sih alat yang mendukung kegiatan hidup sehat banyak sekali di pasaran, namun yang dikemas bersama gaya hidup religius nampaknya masih jauh dari kenyataan. πŸ˜€

Saya sempat menggunakan Nike Fuel Band, namun entahlah, nampaknya saya kurang sreg dengan Nike Fuel Band yang menurut saya fungsi yang saya perlukan hanyalah untuk mengukur dan mencatat ketika saya lari. Dan agak merepotkan bagi saya kalau sinkronisasinya harus melalui koneksi komputer. Sempat naksir Jawbone UP, lebih oke dan bisa terkoneksi ke smartphone. Pun, ada aplikasi di smartphone juga yang keren. Namun, (katanya sebagian orang) Jawbone UP gak tahan air. Repot memang, keinginan manusia seperti saya ini. πŸ˜€

Fitbit Jawbone Fuelband

Wearable Computing di benak banyak perusahaan teknologi saat ini, adalah mengarah ke alat yang menempel di tangan, akhirnya produknya berupa gelang dan jam tangan. Hanya Google yang mengeluarkan produk bertajuk wearable yang berupa kacamata bernama Google Glass. Di masa yang akan datang, bakalan lebih banyak wearable yang makin berkembang; bisa terkoneksi langsung ke smartphone, ada fitur untuk tracking dan routing arah, bisa terkoneksi ke internet, punya kemampuan untuk terkoneksi dengan alat rumah tangga, punya kemampuan untuk terkoneksi dengan alat transportasi. Kalau menurut pemirsa, bagaimanakah alat wearable computing idamanmu?

catatan:

  • Foto Motorola DynaTAC dari sini
  • Foto Motorola Razr V3 dari sini
  • Foto Google Glass dari sini
  • Foto Wearable Device dari sini

Indonesia di banyak laporan, riset, artikel, seminar dan turunannya dianggap sebagai pasar berkembang bagi produk teknologi, baik yang bersifat hardware maupun software. Apalagi sejak kemunculan paket data murah dan acang harga miring (alat canggih) yang semakin terjangkau kelas menengah sampai kelas bawah, maka pertumbuhan penggunaan internet menjadi meningkat pesat.

Sebuah hasil analisis yang digagas oleh Pew Research beberapa waktu yang lalu, menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara berkembang yang mempunyai tingkat penetrasi mobile phone dan internet bergerak dengan tren menaik. Sesuai sampling sebanyak 1000 responden, 78% orang Indonesia mempunya alat telepon bergerak dan 11% nya berkategori telepon bergerak pintar, alat canggih. Kebanyakan pengguna telepon bergerak yang dianalisis oleh Pew Research, menggunakan telepon bergerak dan smartphonenya untuk berSMS dan mengambil gambar/foto.

Gambar

Analisis ini sejalan dengan kenyataan di lapangan mengenai penetrasi beragam aplikasi internet messaging di Indonesia yang semakin gencar. Mulai dari BBM yang meletakkan ‘revolusi’ cara berkomunikasi dengan membiasakan banyak orang Indonesia untuk berkomunikasi teks berbasis Internet. Kemudian disusul masuknya WhatsApp, Line, KakaoTalk, WeChat, Viber, myPeople dan Telegram. Asia adalah pasar yang sangat legit untuk produk internet messaging. Mempunyai pengguna muda yang cukup besar dan rata rata melek dengan teknologi internet. Plus, dengan semakin beragamnya kemasan internet messaging, yang semakin berkembang tidak hanya berdasarkan texting saja, namun juga menjadi sebuah platform mendekati bentuk sebuah social networking. Sebagai contoh KakaoTalk, internet messaging produk sebuah perusahaan Korea, dengan serius menggarap pasar Indonesia. Membuka kantor di Indonesia tahun 2013 kemarin, dan sampai sekarang di Indonesia telah mempunyai pengguna sebanyak 16 juta.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan hadir dalam undangan yang diadakan oleh KakaoTalk, untuk menyimak presentasi salah satu fitur terbaru yang merupakan hasil adaptasi KakaoTalk untuk pasar Indonesia. Fitur yang dinamakan Speed Booster ini mampu menyampaikan pesan dalam bentuk teks maupun grafis lebih cepat dibandingkan dengan layanan messaging sejenis di Indonesia. Menurut saya, kehebatan Speed Booster ini bukan hanya dari unsur kecepatannya, namun jaminan bahwa pesan dapat disampaikan bahkan dalam kondisi jaringan yang hanya 2G/EDGE saja. Hal ini, belum terdapat di messaging app selain KakaoTalk di Indonesia, menyampaikan pesan gambar dalam kondisi 2G/EDGE bisa dipastikan gagal. Semua kemajuan ini, karena keseriusan KakaoTalk untuk melayani pasar Indonesia, yang akhirnya mengoptimalisasi aplikasi KakaoTalk dengan kondisi jaringan di Indonesia.

Sedikit membedah Speed Booster, kenapa layanan ini sampai bisa mengantarkan pesan dalam bentuk gambar dengan kecepatan yang melebihi kecepatan aplikasi messaging sejenis, kuncinya adalah di optimalisasi Image Relay Technology yang difokuskan dengan memecah gambar dalam ukuran besar ke ukuran kecil kecil untuk mencapai tingkat pengantaran yang maksimal dan optimal. Selain itu, KakaoTalk mengembangkan teknologi yang mengurangi ukuran paket data ketika aplikasi sedang terkoneksi dengan jaringan 2G/EDGE. Sehingga dapat dipastikan pesan dalam bentuk teks bahkan gambar dapat diterima dengan cepat dan sempurna.

KakaoTalk dengan Speed Booster teknologi ini, mendukung hampir semua platform umum. Mulai dari BlackBerry Java dengan OS Minimum 3.3.1, Android dengan spesifikasi minimum 4.3.1, iOS dengan versi OS minimum 4.0.1, Windows Phone dengan minimum OS 0.9.0 bahkan Asha dengan versi minimum 0.9.0. Yang menarik, saya sempat komplain kepada Mario Nicholas, Product Manager KakaoTalk Indonesia, mengapai versi BlackBerry 10 kok tidak ada di market, saya diingatkan bahwa BlackBerry 10 terbaru sudah bisa menggunakan aplikasi KakaoTalk versi Android. Duhh saya lupa.. πŸ˜€

Mengamati persaingan aplikasi messaging di Indonesia sangatlah menarik. Dan saya salut dengan langkah KakaoTalk untuk melakukan adaptasi yang krusial untuk wilayah Indonesia. Saya harap, dengan pemasaran yang lebih inovatif maka produk KakaoTalk yang telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia ini semakin diminati oleh masyarakat. Pasar untuk messaging app di Indonesia masih sangat besar, meskipun persaingannya telah sangat ketat.

Oh iya, kalau ingin tahu mengenai teknologi Speed Booster ini dalam bentuk TVC, bisa langsung longok di klip yang saya sertakan dalam blog post ini.

Β 

Cyruschat dingblog

Mungkin bakalan banyak yang berkomentar,”ahh pasti Cyrus Chat adalah smartphone Android kelas menengah lainnya”. Kalau saya bilang sih, Cyrus Chat besutan dari PT Mitra Komunikasi Utama adalah smartphone Android produk lokal dengan kelebihan di sisi hardware dan juga di sisi paket jualannya yang terbilang MACAN! Ya gimana gak macan, coba saja baca seluruh paket yang ditawarkan ini dengan satu tarikan nafas;

  • Smartphone Android berbasis keypad fisik QWERTY.
  • Dual SIM Card.
  • Sudah mendukung HSPA.
  • Mendukung T Flash sampai 2 TB.
  • OS yang ditanam adalah Android Jelly Bean.
  • Bonus Voucher untuk berbelanja Majalah, Buku dan Koran di aplikasi INDOBOOKS.
  • Gratis 24GB paket data Telkomsel selama 1 tahun, senilai 720 Ribu Rupiah.
  • Beberapa Game HD Gameloft.

Saya sering melihat, para pabrikan smartphone lokal yang mengusung OS Android, banyak yang hanya lebih fokus di jualan devicenya tanpa embel embel paket jualan yang menarik. Palingan yang dijual paket data bundling dengan operator sebesar maksimum 2GB. Namun belum ada yang membundling dengan aplikasi lokal maupun yang international. Apalagi yang membundling dengan konten majalah, buku, dan koran senilai ratusan ribu.

Terus terang, saya sempat icip icip sejenak Cyrus Chat ini. Saya memesan unit ini dengan system pre order di situs cyruspad yang akhirnya dikirim beberapa minggu kemudian, dikarenakan pengiriman dari pabriknya di China. Karena saya pesan pre-order, maka saya berhak pula untuk mendapatkan satu tiket nonton konser kolaborasi Melly Goeslaw, Andien, Astrid, Bondan Prakoso, Smash, dan Coboy Junior pada tanggal 11 Desember 2013. Sekali lagi, kemasan jualan yang sangat menarik!

Unit Cyrus Chat datang beberapa hari yang lalu, kemudian saya coba saya sinkronikasasikan dengan akun Google dan langsung download beberapa aplikasi. Pengalaman menggunakan keypad fisik di Cyrus, cukup nyaman. Keypadnya mengingatkan terhadap keypad dari BlackBerry Curve. Cukup empuk dan dengan keypad fisik maka pengetikan lebih bisa terjaga dan lebih cepat. Saya belum sempat coba lebih mendalam, karena devicenya terlebih dahulu dipinjam oleh kolega untuk testing beberapa aplikasi smartphone yang sedang dalam produksi.

Bagi saya, Cyrus Chat cocok banget untuk segmen perempuan dan remaja. Kenapa perempuan? Karena beberapa kali survey di sekitar saya, para perempuan lebih suka menggunakan keypad fisik. Atau mungkin yang saya survey lebih banyak pengguna BlackBerry? Entahlah. Dan juga kenapa cocok untuk segmen remaja? Ya karena menurut saya, remaja suka menggunakan aplikasi media sosial dan chatting yang lebih banyak mengetik. Pengetikan di Cyrus Chat tergolong nyaman. Dan ini bakalan banyak mengkonversi para pemakai BlackBerry ke Android. Ini sih sekedar prediksi warung kopi. Saya lihat, Cyrus Chat bisa masuk ke segmen yang tepat, segmen para pendamba keypad fisik yang ingin berpindah ke Android (dari BlackBerry) namun belum terlalu pede karena di Adroid, device berkeypad fisik bisa dihitung dengan jari.

Okelah, daripada saya berbusa busa nulis, mungkin lebih nyaman jika melihat video demo Cyrus Chat. Monggo…

Jadi, sudah berapa smartphone Android yang anda gunakan? Dan sampai saat ini, device Android yang berkeypad fisik manakah yang pernah digunakan?